Menolak Taklid Buta kepada Influencer

Mengecek latar belakang pendidikan dan keilmuan itu jauh lebih penting daripada melihat angka yang tertera di kolom pengikut.

· 3 menit untuk membaca
Menolak Taklid Buta kepada Influencer
Sumber gambar: Pixabay

"Saya pernah melihat ada orang menulis caption, 'blablabla.' (kalimat disamarkan) itu bagaimana, ya?"

Seorang anak pada suatu pembelajaran madrasah diniyah bertanya begitu pada saya. Bagi yang merasa aneh karena kok bisa seorang santri "membandingkan" takarir influencer di platform instagram dengan keterangan dalam kelas-kelas madrasah diniyah, tenang dulu. Pertanyaan yang dilontarkan justru membuat saya kagum. Sebab dengan dia bertanya, ada perkembangan kognitif yang sedang ia lalui.

Anak-anak kita, bahkan mungkin juga kita, turut merasakan "diasuh" oleh dunia digital yang perkembangannya sangat cepat—secepat kita tahu siapa kekasih baru dari mantan terakhir kita. Mau tidak mau, sumber belajar kita juga bertambah. Semula, orang-orang yang ingin belajar fikih akan mendatangi satu guru, berkutat dengan turos, membuka hasil bahsul masail, dan membaca buku-buku bertema fikih. Tapi, hari ini, rasanya orang-orang akan merasa kurang lega jika tidak membuka laman pencarian atau menengok akun seorang influencer untuk memenuhi hasrat keingintahuannya. Begitu pun ketika seseorang ingin mencari jawaban atas kegundahan hati dan perubahan perilakunya, kalimat-kalimat influencer-lah yang akan dibaca. Apakah itu sepenuhnya buruk?

Jika konteks pertanyaannya adalah seratus persen buruk atau tidak, tentu jawabannya tidak. Perubahan gaya belajar masyarakat menandakan bahwa kita tidak menolak perubahan. Pernyataan klise soal perubahan adalah keniscayaan memang ada benarnya, dan kemampuan untuk beradaptasi yang akan menyelamatkan kita dari ketertinggalan peradaban. Namun, meski tidak sepenuhnya buruk, realitas belajar dari internet, terutama influencer, tetap memiliki celah yang, kalau kita tak berhati-hati, maka terputusnya transmisi keilmuan dan kaburnya validitas hanya soal menunggu waktu.

Akun instagram saya tidak banyak mengikuti influencer atau selebgram yang namanya sering diperbincangkan. Bukan karena sok anti terhadap selebgram, tapi entah mengapa, saya tidak menemukan alasan kuat yang mengharuskan saya untuk klik fitur mengikuti. Hanya beberapa nama yang kebetulan saya ikuti—itu pun karena kebetulan mereka adalah teman saya, atau direkomendasikan oleh banyak orang, lalu saya penasaran. Namun karena algoritma instagram tetap menampilkan akun-akun influencer yang diikuti oleh teman saya, walhasil sedikit-banyak saya tahu soal konten-konten yang disajikan oleh influencer yang akunnya tak saya ikuti.

Terhadap beberapa konten saya setuju-setuju saja. Tapi pada beberapa yang lain, saya memutuskan untuk tidak sepakat, meski konten itu diproduksi oleh influencer yang total pengikutnya setara dengan harga preloved scarf Barli Asmara. Saya pernah mengutarakan hal itu kepada seorang teman. Respons yang ia berikan sedikit membuat saya terkejut. Dia menganggap saya kewanen (baca: terlalu berani) karena meragukan konten yang diproduksi oleh seorang influencer yang katanya, ilmunya sundul langit. Saat itu tiba-tiba saya merenung. Memangnya kenapa kalau saya tidak setuju? Apakah lantas saya disebut nulayani adat?

Di era digital dan atas nama kebebasan bersuara, serta penyebaran ilmu, banyak dari kita yang tergerak untuk jadi pendakwah atau akademisi di media sosial. Atas nama alam raya adalah sekolah dan apa saja yang kita temui adalah ilmu, kita jadi berhasrat mendapatkan ilmu yang banyak, tapi agak instan. Sayangnya, hasrat-hasrat baik soal keilmuan itu, tidak semuanya dibarengi dengan kesadaran untuk mau menguji argumen ataupun teori yang dilontarkan.

Kita bisa mengontrol apa saja yang akan kita bagikan atau dakwahkan di media sosial. Tapi, satu hal yang harus kita sadari: konten-konten influencer tersebut sama sekali tidak bisa kita kontrol. Satu-satunya yang bisa kita kendalikan adalah respons terhadap konten-konten atau takarir yang ditulis influencer. Sebagai contoh, saya dan beberapa kawan hanya akan menyetujui omongan atau konten yang sudah melalui beberapa "uji kelayakan", sekalipun itu sekadar kalimat motivasi.

Mengecek latar belakang pendidikan dan keilmuan itu jauh lebih penting daripada melihat angka yang tertera di kolom pengikut. Kalau konten yang disajikan adalah seputar keagamaan, tidak ada salahnya jika bertanya kepada guru-guru kita yang lain. Apabila kontennya adalah sesuatu yang bisa dibuktikan secara saintifik atau analisa terhadap sesuatu, mencari informasi pembanding lewat artikel ilmiah atau pendapat para pakar bisa dijadikan opsi respons yang bisa kita ambil.

Responsif terhadap perubahan digital bukan berarti kita harus menganggukkan kepala terhadap apa pun yang disajikan. Responsif dan reaktif adalah dua hal yang berbeda. Memutuskan responsif di era digital juga tidak selalu bermakna adu cepat membuat konten. Sebagai kalangan yang maqamnya masih sebatas penikmat konten, tentu sah-sah saja mengikuti akun influencer yang direkomendasikan dan dirasa bermanfaat. Namun, poin pentingnya adalah jangan taklid buta! Kita tetap menerima dan menghargai itu (konten, takarir, dan lain sebagainya yang diproduksi oleh orang lain) sebagai kekayaan pengetahuan. Ihwal menjadikannya sebagai kebenaran tunggal, saya benar-benar tidak menyarankan.


Baca juga tulisan dari Hikmah Imroatul Afifah yang lain.

Related Articles

Sekotak Susu “Punya Mama”
· 3 menit untuk membaca
Tahun Baru (2023): Harapan VS. Dosa-Dosa Masa Lalu
· 2 menit untuk membaca
#Womansupportwoman yang Disalahpahami
· 4 menit untuk membaca
Barokah dan Dilema Santri yang Takut Kualat
· 2 menit untuk membaca
Ilmu yang Bermanfaat, Rida Guru, dan Husnuzan Murid
· 2 menit untuk membaca