Bekal Khidmah dari Gus Kautsar

Perkara “membina umat” ini tentu bukan hal yang mudah. Alumni pesantren jelas butuh bekal sebelum benar-benar terjun ke masyarakat atas nama khidmah (pengabdian).

· 2 menit untuk membaca
Bekal Khidmah dari Gus Kautsar
Sumber gambar: Youtube: NU Online

Kepulangan para santri ke kampung halaman adalah salah satu momen yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat. Seusai menamatkan pendidikan di pesantren, para santri –yang berubah status menjadi alumni—biasanya akan dilimpahi amanat untuk membina umat dalam hal keagamaan. Harus diakui jika ekspektasi masyarakat terhadap kalangan pesantren (keluarga ndalem pesantren, santri, dan alumni) memang cukup tinggi.

Perkara “membina umat” ini tentu bukan hal yang mudah. Heterogenitas umat dalam hal pengetahuan keagamaan tidak mungkin dipaksa untuk seragam. Belum lagi jika menyoal masalah keumatan yang kadang-kadang di luar bayangan. Terhadap hal-hal seperti ini, alumni pesantren jelas butuh bekal sebelum benar-benar terjun ke masyarakat atas nama khidmah (pengabdian).

KH. Abdurrahman Al Kautsar atau biasa dipanggil Gus Kautsar, dalam salah satu perbincangannya, membeberkan fakta soal potret pengabdian alumni pesantren. Salah satu pengasuh PP. Al Falah ini mengisahkan bahwa alumni pesantren sering kali harus kembali membuka kitab-kitab dasar seperti Sullam at-Taufiq dan Mabadi’ al-Fiqhiyyah ketika terjun ke masyarakat. Padahal semasa nyantri, kitab-kitab yang dikaji tidaklah main-main. Fathul Mu’in, Fathul Wahab, Mahalli, dan Al-Iqna’ adalah beberapa kitab yang dicontohkan oleh beliau. Lalu bagaimana seharusnya para alumni pesantren menyikapi fenomena ini?

Gus Kautsar memberi wejangan bagi para alumni pesantren –dan tentunya untuk kalangan pesantren secara luas—dengan mengutip keterangan dalam kitab Sahih Bukhari.

وَقَالَ ابۡنُ عَبَّاسٍ: ﴿كُونُوا رَبَّانِيِّينَ﴾ [آل عمران: ٧٩] حُلَمَاءَ فُقَهَاءَ، وَيُقَالُ: الرَّبَّانِيُّ الَّذِي يُرَبِّي النَّاسَ بِصِغَارِ الۡعِلۡمِ قَبۡلَ كِبَارِهِ

Ibnu ‘Abbas berkata: Ayat yang artinya, “Jadilah kalian ulama rabbani.” (QS. Ali ‘Imran: 79), artinya adalah penyantun lagi fakih. Ada yang berpendapat: Rabbani adalah orang yang membimbing manusia dengan ilmu yang dasar sebelum yang tinggi.

Menghadapi situasi di lapangan yang sedemikian rupa, para alumni pesantren diharapkan memiliki jiwa pendidik. Jika membaca keterangan tersebut, jiwa pendidik yang dimaksud adalah kesiapan para alumni pesantren untuk mengajarkan hal-hal kecil yang fundamental, sebelum mengajarkan hal-hal besar atau keilmuan yang lebih kompleks. Sebagai seorang pendidik, alumni pesantren diharuskan memiliki ketulusan dan kebijaksanaan dalam menghadapi umat dan segala problematikanya.

Amanat mendidik umat ini juga harus dibarengi dengan peningkatan kapasitas keilmuan. Para pendidik –dalam hal ini adalah alumni pesantren—tidak boleh berhenti mengaji. Guru-guru yang dipilih pun haruslah orang-orang yang memiliki sanad keilmuan yang jelas. Sebab sekali saja alumni pesantren lengah dalam hal mengaji, umat akan dikuasai oleh orang-orang yang disebut adz-Dzanin. Mereka adalah sesiapa saja yang hari ini kita lihat getol sekali berdakwah dengan modal gawai dan kolom pencarian di Google, tanpa sanad yang mutawatir.

Jauh sebelum kita digegerkan oleh fenomena orang-orang yang mendaku diri sebagai da’i, Imam Bukhari telah lebih dulu mewanti-wanti. Imam Nawawi dalam Majmu' Syarh Muhaddzab li an-Nawawi menjelaskan nasihat Bukhari yang disampaikan di kitab Al-Faraidl­-nya.

قَالَ الْبُخَارِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ فِي أَوَّلِ كِتَابِ الْفَرَائِضِ مِنْ صَحِيحِهِ قَالَ عُقْبَةُ بْنُ عَامِرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ تَعَلَّمُوا قَبْلَ الظَّانِّينَ قَالَ الْبُخَارِيُّ يَعْنِي الَّذِينَ يَتَكَلَّمُونَ بِالظَّنِّ: وَمَعْنَاهُ تَعَلَّمُوا الْعِلْمَ مِنْ أَهْلِهِ الْمُحَقِّقِينَ الْوَرِعِينَ قَبْلَ ذهابهم ومجئ قَوْمٍ يَتَكَلَّمُونَ فِي الْعِلْمِ بِمِثْلِ نُفُوسِهِمْ وَظُنُونِهِمْ الَّتِى لَيْسَ لَهَا مُسْتَنَدٌ شَرْعِيٌّ

“Imam al-Bukhari berkata di awal kitab Fara'idl yang diambil dari kitab Sahih al-Bukhari: Uqbah ibn Amir berkata, “Belajarlah sebelum datangnya orang-orang yang berprasangka.” Imam Bukhari menjelaskan maksudnya bahwa belajarlah ilmu dari para ahli yang sejati dan yang wira'i sebelum kepergian mereka dan sebelum datangnya kaum yang berbicara masalah ilmu dengan dasar nafsu dan prasangkanya, yang mana perkataan tersebut tidak disandarkan pada syariat.”

Wejangan Gus Kautsar berupa hilm dan ‘alim harus benar-benar diperhatikan oleh para alumni pesantren. Dua hal itu adalah modal utama untuk bisa membina umat dengan cara-cara yang santun. Harapannya, persepsi yang muncul di masyarakat adalah Islam rahmatan lil ‘alamin bisa dilihat dari wajah-wajah alumni pesantren.


Penulis: Hikmah Imroatul Afifah