Catatan Lebaran di Syam (1): Pentingnya Meneguhkan Persatuan

Di antara poin terpenting yang disampaikan Rektor Dr. Syekh Muhammad Syarif 'Adnan al-Shawwaf, dalam sambutannya, adalah tentang pentingnya persatuan untuk kemajuan sebuah peradaban.

· 3 menit untuk membaca
Catatan Lebaran di Syam (1): Pentingnya Meneguhkan Persatuan

Zawaya.id–Berhubung sudah lama tidak menulis artikel, baik yang agak serius maupun yang "gak serius-serius amat", saya akan mencoba sedikit mengumpulkan poin-poin terpenting selama kurang lebih tujuh hari bertamu dan bertemu dengan ulama-ulama besar dan luar biasa di Damaskus.

Mungkin hanya beberapa yang akan diolah dan direstrukturisasi menjadi sebuah tulisan kecil–pikirku. Daripada disimpan sendiri di-note, sekaligus dalam rangka bertukar kabar, bahwa kami baik-baik saja, ehe.

1 Syawwal 1443 H / 2 Mei 2022 M
Perjalanan bermula tatkala matahari siang menjelang. Dalam acara formal bersama para murid dan pecinta Syekh Ahmad Kaftaru–رحمه الله– yang tak hanya berdatangan dari luar kota, seperti Homs, Lattakia, dan Rîf Dimashq, tetapi juga dari luar negeri, seperti Lebanon.

Khalayak mulai berkerumunan di dalam sebuah masjid tua, yang konon telah direnovasi sehingga nampak "awet muda", Abu al-Nūr. Masjid yang kini menjadi salah satu pusat studi dan keilmuan di Damaskus–khususnya bagi pelajar asing seperti kami–serta telah berevolusi menjadi bangunan sepuluh lantai, dalam naungan lembaga bernama 'Institut Syekh Ahmad Kaftaru' (مجمّع الشيخ أحمد كفتارو), sebagai salah satu cabang dari Universitas Bilad al-Sham.

Rektor Dr. Syekh Muhammad Syarif 'Adnan al-Shawwaf
Rektor Dr. Syekh Muhammad Syarif 'Adnan al-Shawwaf

Di antara poin terpenting yang disampaikan Rektor Dr. Syekh Muhammad Syarif 'Adnan al-Shawwaf, dalam sambutannya, adalah tentang pentingnya persatuan untuk kemajuan sebuah peradaban. Ulama sebagai mercusuar ilmu keagamaan Nabi Muhammad ﷺ sudah seharusnya memberikan teladan baik tersebut. Dalam 1-2 abad terakhir, sebagian umat seakan lupa identitasnya sebagai satu kesatuan, serta pentingnya makna Āli 'Imrān (3): 103. Lupa terhadap makna itulah yang menjadikan sebagian komunitasnya kian terkotak-kotak dan merasa paling superior (*).

Beliau mengutip kisah al-Imam Abu Hanifah dan al-Imam al-Awzā'i (dua ulama super jenius yang namanya melegenda sebagai pendiri mazhab fikih yang kerap digunakan di wilayah Syam). Al-Awzā'i sempat mengkritik habis-habisan pemikiran Abu Hanifah berdasarkan rumor yang beredar di kalangan umum (baca: gosip), bahwa Abu Hanifah lebih mengutamakan metode istinbāth Qiyās daripada hadis āhād. Al-Awzā'i mengkritik demikian atas dasar desas-desus yang tersebar, sebelum sempat meneliti langsung karya Abu Hanifah, karena keterbatasan publikasi kala itu. Konon, setelah membaca karya-karya Abu Hanifah, al-Awzā'i justru takjub dan memuji-mujinya. Bahkan ia lalu merekomendasikan murid-muridnya untuk belajar dan mengambil ilmu dari Abu Hanifah.

Sehingga dari sambutan rektor, dapat digarisbawahi bahwa:

  1. Perangai terpuji para ulama sejak dahulu adalah saling menghormati perbedaan pendapat furū'iyyah, selagi dalam koridor ushūliyyah yang aman. Dikawal dengan sikap objektif dan kaidah-kaidah ilmiah. Lagi pula peradaban dan komunitas mana yang dapat membangun kemajuan, jika bukan atas dasar persatuan, menghormati perbedaan, dan bahu-membahu?!;
  2. Pentingnya klarifikasi dalam berbagai hal, khususnya yang terkait dengan keilmuan. Belajar dari sejarah, fitnah, dan misinformasi seringkali menjadi biang kerok suatu perselisihan;
  3. Urgensi melaksanakan amanah dengan baik. Kemudian beliau memaklumatkan beberapa pencapaian yang telah diraih lembaga yang dipimpinnya selama beberapa tahun itu.
Syekh Dr. Muhammad Rajab Dieb
Syekh Dr. Muhammad Rajab Dieb

Lalu Syekh Dr. Muhammad Rajab Dieb, dalam sambutannya, mengajak para hadirin untuk kembali merenungi makna bulan Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri. Agar puasa sebulan dapat dijadikan sebagai simbol kemenangan terhadap hawa nafsu, sehingga kita tak lagi terkekang olehnya, dan justru kita yang senantiasa mengendalikannya, agar lebih hati-hati dalam berpikir, berucap, dan berbuat.

Beliau juga menegaskan bahwa tidak cukup hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga harus dibarengi dengan ketajaman spiritual, dan kestabilan emosional. Sebagaimana kerap kali dinyatakan;

"Terbanglah menuju langit hakikat dengan dua sayap: Sayap ilmu dan sayap amal perbuatan baik
(بجناحي العلم والعمل)".

Majelis pun ditutup dengan doa oleh Syekh Dr. Ramadhan Dieb dan Syekh Dr. Muhammad Khair Fathimah (**)

Syekh Dr. Ramadhan Dieb
Syekh Dr. Ramadhan Dieb
Syekh Dr. Muhammad Khair Fathimah
Syekh Dr. Muhammad Khair Fathimah

(*) Sebagian poin yang beliau sampaikan saya tambahkan dan lengkapi dari buku tulisan karya beliau, "al-Manhaj al-Fikri wa al-Da'awy li-'Ulamā-i bilād al-Syām".
(**) Foto-foto perorangan di atas disadur dari halaman facebook resmi beliau-beliau, untuk kepentingan ilustrasi.

Related Articles

Ulama dan Pancaragam Profesinya
· 7 menit untuk membaca
Ulama Oposan atau Oplosan?
· 4 menit untuk membaca
Era Medsos: Membunuh Kepakaran, Merayakan Keawaman
· 5 menit untuk membaca
Mercon Blanggur, Kegembiraan atau Hanya Penghamburan??
· 2 menit untuk membaca
Sayidah Sukainah: Cicit Rasulullah yang Progresif
· 2 menit untuk membaca