Mengenang Syekh Muhammad Adnan al-Afyouni, Alim-Syahid Suriah yang Welas Asih

Sekurang-kurangnya, Syekh Adnan telah mengalami tiga puluh kali percobaaan pembunuhan, baik melalui bom, sniper, dan lain sebagainya. Meskipun demikian, Syekh Adnan tetap berada di garda terdepan dalam dialog yang mengupayakan perdamaian.

· 4 menit untuk membaca
Mengenang Syekh Muhammad Adnan al-Afyouni, Alim-Syahid Suriah yang Welas Asih

"Jika kalian tidak paham, saya akan mengulangi seribu kali dengan cara berbeda sampai kalian paham, jika kalian tidak paham saya yang salah, karena saya banyak dosa,"

ujar Syekh Adnan ketika beliau mengajar


Zawaya.id–Kalimat di ataslah yang terngiang ketika kami mendengar berita memilukan itu. Betapa beliau menjadi sosok panutan dan guru yang tak tergantikan. Masih segar ingatan kami tentang beliau, tentang kelembutan, keramahan dan ketawadukan beliau. Beliau dengan segala posisi dan jabatan yang diemban seakan tak terbawa arus olehnya. Kami menjadi saksi bahwa beliau selalu mengajari kami dengan baik, dengan lembut dan berwibawa.

Syekh Muhammad Adnan Al-Afyouni merupakan Mufti Syafi’i Damaskus yang juga berperan penting dalam mendamaikan Suriah selama dan pasca konflik. Dengan kelembutan dan rasa kasih sayangnya terhadap semua orang, beliau dipercaya untuk menjadi Ketua Rekonsiliasi Suriah, yang mempunyai misi merekatkan kembali perpecahan yang telah timbul karena konflik. Berkatnya, Suriah bisa bangkit dari keterpurukan selama hampir satu dekade.

Beliau memang merupakan seorang yang supel, di mana beliau diberkahi dengan keterampilan berkomunikasi dan bergaul dengan semua kalangan. Ketika beliau berhadapan dengan anak-anak, beliau mampu menarik hati anak-anak. Begitupula ketika beliau berhadapan dengan orang dewasa ataupun orang tua. Sebab, beliau bisa memahami dan mengetahui cara bagaimana mendekati seseorang dengan sudut pandang orang tersebut. Sehingga tak heran beliau bisa meyakinkan berbagai pihak dari berbagi kalangan serta berbagi latar belakang untuk bersatu padu dalam membangun kembali Suriah.

Beliau mempunyai himmah dan komitmen dalam mengajar, salah satu buktinya adalah ketika beliau paginya menjalani operasi jantung, siangnya beliau langsung mengajar dan melanjutkan pengajiannya di masjid-masjid Damaskus. Kami tak pernah melihat seseorang yang mempunyai kegigihan dan ketangguhan seperti itu.

Hebatnya lagi ketika kami berkunjung untuk menjenguk beliau, ketika beliau dikabarkan pingsan karena jatuh di kamar mandi, beliau berkata, “Saya kira, tugas saya sudah selesai, dan saya sudah dipanggil Tuhan Saya.” Sontak, kata-kata sederhana beliau membuat kami menangis, betapa guru kami ini telah siap dan sangat merindukan kekasihnya.

Dalam kesempatan takziah–di mana tradisi di Damaskus biasa disebut "Aza’" yang diselenggarakan selama tiga hari–semua kalangan turut hadir–termasuk pendeta kristen ortodoks. Ini adalah bukti bahwa beliau memiliki sebuah spirit toleransi di setiap dakwahnya.

Untaian kata-kata yang lembut selalu terdengar ketika beliau memberikan pengajian; sama sekali tak pernah keras atau menghina. Beliau melihat setiap manusia dengan kacamata manusia. Fenomena ini menjadi suatu antitesis bagi orang-orang yang meneriakkan dan menyebarkan bahwa di Suriah ada perang sekterian dan berlandaskan agama.

Sudah berkali-kali kami tegaskan, bahwa itu tidak benar. Sama sekali tidak benar, dan itu adalah fitnah yang keji. Kita bisa melihat sendiri di acara ini bahwa hubungan antarsekte, golongan, dan agama sangat sehat dan rukun. Kita semua merasa kehilangan akan sosok guru bangsa yang dapat merangkul semua perbedaan.

Tawakkal & Keberanian Syekh Muhammad Adnan Al-Afyouni

Syekh Adnan memiliki rasa tawakkal dan keberanian yang tinggi, dulu, ketika konflik, sekitar tahun 2018 awal atau 2017 akhir, sumber air Fijeh–satu-satunya sumber air Damaskus–diblokade oleh pemberontak, yang menyebabkan pasokan air di Damaskus terhenti, sampai-sampai para penduduk harus mencari air di masjid-masjid.

Untuk menyelesaikan masalah itu, pemerintah mengirimkan perwakilan jenderal untuk mengadakan perundingan. Ketika baru datang, jenderal itu langsung ditembak mati oleh para pemberontak. Karena tidak membuahkan hasil, akhirnya Syekh Adnan berinisiatif untuk menjadi mediator perundingan. Maka, berangkatlah beliau guna berunding kepada para pemberontak dan disepakatilah gencatan senjata agar masing-masing pihak tidak saling menyerang.

Sekurang-kurangnya, beliau telah mengalami tiga puluh kali percobaaan pembunuhan, baik melalui bom, sniper, dan lain sebagainya. Meskipun demikian, beliau tidak pernah merasa takut untuk menjalankan aktivitasnya seperti biasa. Syekh Adnan tidak berkenan untuk dikawal dan memilih pergi kemana-mana sendirian atau bersama sopirnya saja.

Kecintaan Beliau pada Indonesia

Ketika konflik berlangsung di Suriah, mahasiswa Indonesia-lah yang menjadi perhatian utamanya, bukan keluarganya. Ketika beliau berinisiatif mendirikan Markaz al-Syam al-Islami al-Dauli (Cham International Islamic Centre) yang disetujui oleh presiden, beliau sengaja memberi kuota terbanyak kepada Indonesia, yakni sebesar tiga puluh orang.

Beliau sudah berkali-kali datang ke Indonesia, baik sebagai narasumber ataupun tamu undangan. Beliau sangat vokal dalam menyuarakan visi-misi perdamaian dunia, khususnya Suriah. Beliau memiliki peran penting di Indonesia, melalui mimbar-mimbar, pondok pesantren, masjid, lembaga-lembaga dan berbagai macam media lainnya. Beliau juga senantiasa menggemakan gagasan “Jangan Suriahkan Indonesia”. Juga menjadi promotor perdamaian serta toleransi yang tiada banding.

Kesalehan dan Karamah Beliau

Suatu ketika, Syekh Rajab Dieb–Guru Tarekat beliau yang terkenal kesalehan dan kewaliannya–pernah mendoakan Syekh Adnan: “Ya Allah, jadikanlah ia orang yang besar ilmunya dan besar badannya”. Syekh Adnan sendiri ber-mulazamah sangat lama kepada gurunya Syekh Rajab Dieb. Hubungan antara guru dan murid yang saling mengasihi.

Dalam kesempatan lain, Syekh Rajab Dieb juga pernah berkata,

“Seandainya ada sepuluh orang seperti Syekh Adnan, maka akan terbebaskanlah seluruh dunia.”

Kisah Syahidnya Beliau

Kamis malam tanggal 22 oktober 2020, beliau mengisi pengajian di Masjid Qudsayya–daerah sekitar pinggiran Damaskus (daerah pedesaan). Pengajian itu dilaksanakan antara Maghrib dan Isya. Selesai dari salat Isya, beliau berjalan lebih dulu–karena beliau tidak biasa dikawal dan sopirnya memang terlambat mengikuti. Ketika beliau sudah duduk di dalam mobil, bom itu meledak. Mengantarkan beliau pada derajat syahid.

Jumat, 23 Oktober, di Masjid Agung Umawy, jenazah beliau disalati oleh ribuan jamaah; mengiringi hari kembalinya sang syekh. Hari di mana beliau dipertemukan dengan kekasihnya. Hari yang diidam-idamkan oleh beliau.

Pada kesempatan itu, wazir al-awqaf (Menteri Agama) Suriah berpidato, “Setidaknya, lebih dari tujuh puluh ulama telah syahid semenjak konflik selama satu dekade ini dan Syekh Adnan juga menjadi bagian dari ulama syahid itu. Beliau kini syahid dan jasa dan perjuangannya akan selalu dikenang bagi semua kalangan. Beliau adalah guru bangsa dan panutan ummat yang tak akan pernah luput dari memori."

Semoga kisah beliau menjadi inspirasi bagi kita semua, menjadi pelecut semangat bagi siapa yang ber-istifadah kepadanya. Sekarang, beliau telah bersanding dengan guru yang dicintainya dan bertemu kekasihnya. Semoga semangat beliau akan terus membara dan bergelora, semoga ketika kita mengingat beliau hanya pekikan semangat yang menghiasi hati dan pikiran. Sugeng kondur guru, semoga kita dapat bertemu lagi di keharibaan-Nya kelak. Sebagai seorang kekasih yang saling mengasihi.

بعد الفرغ مستحيل سداده

“Ada sebagian orang yang telah pergi, meninggalkan ruang kosong di hati, mustahil untuk

diisi kembali.”

Tabik!

Related Articles

Ulama dan Pancaragam Profesinya
· 7 menit untuk membaca
Ulama Oposan atau Oplosan?
· 4 menit untuk membaca
Era Medsos: Membunuh Kepakaran, Merayakan Keawaman
· 5 menit untuk membaca