Mengulas Penafsiran terhadap Al-Kautsar

Imam ibn Abbas menjawab, "Telaga Kautsar itu hanya salah satu dari banyaknya kebaikan atau anugerah yang diberikan Allah kepada Nabi Muhammad."

· 3 menit untuk membaca
Sumber: pexels.com

Zawaya.id–Menjelang Idulfitri lalu, saat hari-hari di bulan Ramadan hampir berakhir, guru saya—Kiai Tubagus Ahmad Rifqi—bercerita tentang tafsir surat al-Kautsar. Tak mau hilang dalam ingatan begitu saja, saya merasa perlu mencatat setiap apa yang saya dapat. Dengan harapan, catatan saya bisa menjangkau banyak orang, dan tentu saja, semoga bermanfaat.

Berbicara tentang surat al-Kautsar, rasanya hampir semua muslim mengenal atau bahkan hafal di luar kepala untuk surat yang satu ini. Surat al-Kautsar adalah surat yang kita kenal sebagai surat dengan jumlah ayat yang sangat sedikit. Jika dihitung, jumlah huruf di dalamnya pun tak sampai empat puluh. Jumlah huruf alif dalam surat ini ada sepuluh. Di ujung setiap ayatnya, surat ini selalu ditutup atau diakhiri dengan huruf ra. Entah kebetulan atau memang ada hikmahnya, di dalam Al-Qur'an, hanya ada sepuluh surat yang memiliki ciri atau keunikan berupa huruf ra sebagai penutup setiap ayatnya.

Allah menurunkan Surat al-Kautsar pada bulan Zulhijah. Saat diturunkan, surat ini menjadi sumber kebahagiaan dan pelipur lara atas kesedihan yang sedang dirasakan baginda Nabi Muhammad saw. karena baru saja ditinggal wafat putranya, Sayyid Ibrahim. Sebagai tambahan, Sayyid Ibrahim merupakan satu-satunya keturunan Nabi yang dilahirkan dari selain Sayyidah Khadijah. Ibunya (Sayyid Ibrahim) bernama Sayyidah Maria al-Qibthiyyah.

Beberapa saat setelah wafatnya Sayyid Ibrahim, Abu Jahal dan golongan orang-orang kafir menghina Nabi Muhammad saw. Mereka mengolok-olok baginda Nabi dengan kalimat "Sesungguhnya Muhammad telah terputus". Kata "terputus" yang diucapkan oleh Abu Jahal dan kelompoknya ini bermakna terputus nasabnya. Dengan wafatnya Sayyid Ibrahim, mereka menganggap Nabi Muhammad tak akan memiliki keturunan dan garis nasabnya telah terputus.

Lalu turunlah surat al-Kautsar sebagai jawaban atas sikap Abu Jahal, sekaligus penyejuk bagi Nabi yang sedang sedih.

Allah berfirman إنّ شانئك هو الأبتر (الكوثر:٣)

"Sungguh, orang-orang yang membencimu, dialah yang terputus (dari rahmat Allah)."

Ada sebagian ulama yang berpendapat bahwa makna dari al-Kautsar adalah keturunan yang banyak. Meski Nabi Muhammad tidak dikaruniai putra laki-laki yang tumbuh hingga dewasa dan memberikan keturunan, tetapi beliau dianugerahi keturunan yang banyak dan terjaga nasabnya. Sebagian ulama lain berpendapat bahwa makna al-Kautsar adalah banyaknya ulama yang meneruskan ilmunya Rasulullah. Di masa jauh setelah Nabi Muhammad tidak lagi hadir secara zahir, akan tetap banyak ulama yang menjaga agama, ajaran, dan nilai-nilai Islam yang diajarkan Rasul.

Kiai Maimun Zubair, seorang ulama dari Rembang, pernah dawuh: "Keturunan Nabi Muhammad itu ada dua. Yakni, keturunan secara fisik, yaitu zuriyah yang nasabnya tersambung sampai Nabi, lalu keturunan secara ruh, yakni para wali dan ulama yang tak henti-hentinya mengajar serta mengamalkan ilmu dan nilai-nilai Islam."

Ayat pertama dari surat al-Kautsar adalah إنّا أعطينك الكوثر. Di beberapa qiraah lain, termasuk qiraah Imam Hasan Bashri, ayat pertama al-Kautsar diredaksikan dengan lafaz إنّا أنطينك الكوثر.
Tidak ada perbedaan secara makna, memang. Perbedaan yang ada hanya dari segi lughat atau dialek. Lughat dalam qiraah yang kedua tadi merupakan lughat Bani Himyar.

إنَّااَعْطَيْنٰكَ الْكَوْثَر

"Sungguh, Kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak."

Makna al-Kautsar sendiri memiliki beberapa penafsiran. Secara bahasa, al-Kautsar diambil dari akar kata yang bermakna banyak. Tafsir pertama memaknai "banyak" sebagai banyaknya keturunan (Nabi Muhammad). Ulama lain menafsirkan kata "banyak" sebagai interpretasi dari banyaknya ulama yang melanjutkan ajaran Rasulullah. Ada juga ulama yang menafsirkannya sebagai umat Nabi Muhammad secara keseluruhan, ataupun sahabat nabi secara khusus.

Imam Ja'far as-Shadiq r.a. menafsiri kata al-Kautsar sebagai nuuru qolbi Sayyidina Muhammad, yakni hati Nabi Muhammad yang bercahaya. Imam Zamakhsyari dalam kitabnya, Tafsir Alkasyaf; Imam Ibnu Asyur dalam kitabnya Tafsir Ibnu Asyur; Imam Ibnu Katsir, Imam ats-Tsa'labi, dan juga Imam al-Alusi dalam kitab Ruhul Ma'ani, beliau semua menerangkan bahwa berdasarkan hadis, beliau semua sepakat bahwa al-Kautsar sendiri adalah nama sebuah danau atau telaga milik Rasul di akhirat kelak.

Tidak ada yang mengetahui letak pasti dari danau tersebut. Sebagian ulama berpendapat bahwa, telaga tersebut terletak di padang mahsyar (tempat manusia berkumpul sebelum melewati shirath), sedangkan sebagian yang lain berpendapat letaknya ada di surga. Mayoritas ulama memilih pendapat yang pertama, yakni bahwasanya telaga Kautsar terletak di padang mahsyar sebagai anugerah bagi Rasulullah. Sebuah danau yang rasa airnya lebih manis dari madu, dan warnanya lebih putih dari susu. Jika meminumnya satu teguk saja, akan hilang dahaga selamanya. Orang-orang yang beruntung akan mendapatkan anugerah berupa air dari telaga Kautsar yang diminumkan oleh tangan Rasulullah sendiri.

Dilihat dari sisi lafaznya, kata كوثر mengikuti wazan فوعل. Imam Zamakhsyari menafsirinya sebagai kebaikan yang banyak. Rasulullah dianugerahi oleh Allah banyak sekali kebaikan dalam berbagai aspek. Sehingga wajar, jika Imam Abdullah ibn Abbas juga mengartikan kautsar sebagai kebaikan yang banyak.
Mengetahui tafsir dari Imam ibn Abbas, seorang muridnya bertanya, "Bukankah yang dimaksud dengan kautsar itu telaga milik Rasulullah?" Beliau (Imam ibn Abbas) menjawab, "Telaga Kautsar itu hanya salah satu dari banyaknya kebaikan atau anugerah yang diberikan Allah kepada Nabi Muhammad."


Baca tulisan lainnya terkait Al-Qur'an dan Tafsir.

Related Articles

Nabi Muhammad saw: Al-Qur'an Berjalan
· 2 menit untuk membaca