Mercon Blanggur, Kegembiraan atau Hanya Penghamburan??

Dor! Ramadan mau berakhir. Dan, bagaimanakah kabar ketakwaanmu? Apakah juga mulai mengendor?

· 2 menit untuk membaca
Mercon Blanggur, Kegembiraan atau Hanya Penghamburan??

Zawaya.id–Tidak terasa bulan Ramadan sudah masuk di sepertiga akhir. Fase Ramadan ini adalah fase yang banyak orang menganjurkan untuk memperbanyak beribadah karena terdapat malam yang lebih baik daripada seribu bulan, yakni lailatulqadar.

Kemudian kita pun akan bersua dengan hari kemenangan yakni Idulfitri. Selain salat Id, hal mainstream lainnya seperti berkumpul dengan keluarga besar, halalbihalal, pertanyaan sebangsa “Kapan lulus?”; “Kapan nikah?”; “Kok sekarang kamu gendutan?, pun akan kita alami lagi.

Namun, ada satu hal kecil yang identik dengan Ramadan dan penyambutan Idulfitri. Hal kecil ini sudah menjadi budaya kita sejak dahulu. Hal kecil ini juga sebenarnya sudah banyak dilarang, tapi entah kenapa masih banyak dilakukan hingga sekarang. Hal kecil ini yakni bermain kembang api.

Kembang api, atau yang lebih dikenal dengan sebutan mercon, adalah peledak berupa bubuk yang dikemas dalam kertas dsb., biasanya bersumbu, dan digunakan untuk memeriahkan berbagai peristiwa. Awal mula dari mercon untuk memeriahkan Ramadan dan Idulfitri ini memiliki berbagai macam versi dari sumber yang berbeda-beda. Salah satu sumber yakni bermula sejak era penjajahan Belanda.

Pada era tersebut, mercon digunakan untuk menyemarakkan lebaran sekaligus merupakan bagian dari syiar Islam. Ada yang berpendapat pula bahwa mercon untuk memeriahkan Ramadan dan Idulfitri ini merupakan akulturasi dengan budaya Tionghoa. Kaum Tionghoa biasanya memeriahkan hari raya mereka dengan menyalakan kembang api untuk mengusir roh jahat, budaya ini yang kemudian diakulturasikan oleh umat Islam di Indonesia.

Tradisi mBlanggur di Jawa Timur

Salah satu tradisi di Jawa Timur saat bulan Ramadan yakni blanggur. Blanggur merupakan sebuah bambu sepanjang kurang lebih 1,5 meter, bergaris tengah 15 cm, memiliki berat kira-kira 8 ons, dan diisi dengan obat peledak.

Nama "blanggur" berasal dari suara yang dikeluarkan oleh bambu tersebut. Ketika bambu terpental ke atas sekitar 300 meter terdengar bunyi "blaang", kemudian terdengar suara ledakan "gluur". Akhirnya, sebutan blanggur kental dengan tradisi tersebut. Blanggur biasanya diletakkan di alun-alun kota dan dibunyikan sebagai pertanda masuk waktu maghrib bagi semua langgar, surau, dan masjid di kota tersebut.

Kemudian ada juga mercon bumbung. Berbeda dengan blanggur yang meluncur ke atas, bumbung lebih mirip seperti meriam. Mercon bumbung ini terbuat dari bambu dan biasanya dimainkan oleh anak-anak muda ketika waktu ngabuburit atau sembari menunggu waktu berbuka. Bambu yang dipakai sebagai meriam seringkali dibuat sendiri dengan ukuran sekitar satu meter atau lebih. Di bagian ujung pangkal, bambu diberi lubang yang diisi minyak tanah. Lewat lubang inilah, kita bisa menyulut ledakan api dengan suara yang menggelegar.

Pada awalnya, penggunaan mercon seperti blanggur ini hanya dilakukan oleh pejabat lokal sebagai sarana untuk menyambut dan menghormati bulan Ramadan sekaligus menandai waktu berbuka seperti yang digunakan oleh masyarakat di Timur Tengah. Namun, sayangnya pemakaian petasan dewasa ini justru meluas di kalangan masyarakat dan bukan lagi untuk sekedar merayakan Ramadan dan/atau Idulfitri.

Petasan kini bahkan sudah menjadi home industry yang juga membahayakan nyawa orang banyak. Sebenarnya, Islam pun tidak melarang adanya ekspresi kegembiraan dalam menyambut Ramadan. Akan tetapi, jika ekspresi kegembiraan tersebut sudah cenderung mengarah ke perbuatan yang membahayakan manusia lainnya, menghambur-hamburkan uang, mengancam jiwa, mencederai dan menganggu orang, serta sia-sia untuk dilakukan, maka lebih baik tidak perlu dilaksanakan.

Terakhir, ekspresi kegembiraan dalam nuansa Ramadan dan menyambut Idulfitri ini tidak melulu harus dengan sesuatu yang meriah. Justru ekspresi yang paling dasar dan sebenarnya harus dilakukan terlebih dahulu sebelum ekspresi lainnya ialah ekspresi yang ditunjukkan pada diri sendiri. Bagaimana caranya dalam rangka bergembira atas bulan Ramadan ini kita berusaha menjadi pribadi yang lebih baik daripada bulan-bulan sebelumnya. Perubahan baik ini juga diharapkan tidak hanya berlaku di bulan Ramadan saja, akan tetapi terus berlaku secara kontinu di bulan-bulan selanjutnya. Sehingga tercipta siklus hamba yang terus merasa harus menjadi lebih baik di dalam diri kita masing-masing.

Wallahu a’lam bi as-Shawab.


Baca juga tulisan terkair Khazanah dan artikel menarik lainnya dari La Rayba Fie