Pancaragam Kelakuan Generasi Z Saat Ramadan: Bukber ikut, Salat Cabut

"Bukber ikut, Salat Cabut." Astaghfirullahalazhim~

· 3 menit untuk membaca
Pancaragam Kelakuan Generasi Z Saat Ramadan: Bukber ikut, Salat Cabut

“Ayo kita bukber!!”
“Waduh, aku di tanggal segitu udah ada acara keluarga. Nggak ada tanggal lain, ya??”
“Hasshh, wacana teroosss”


Zawaya.id–Kalimat di atas mungkin hanyalah sedikit penggalan pesan-pesan di grup WhatsApp kalangan generasi Z ketika memasuki bulan suci Ramadan. Ada yang berbeda dari Ramadan tahun ini, jika dibandingkan dengan Ramadan dua tahun sebelumnya. Jika Ramadan dua tahun sebelumnya kita seakan-akan kehilangan nuansa Ramadan—dikarenakan adanya pandemi yang menyebabkan kita tidak dapat berjumpa secara fisik, di Ramadan tahun ini, hal tersebut mulai mereda.

Mulai banyak dari kita yang sudah bisa berbuka bersama (bukber) dengan sanak famili, teman sekolah, teman kampus, teman kantor, pacar, mantan pacar, calon mertua, mantan calon mertua (jangan nyinyirin kaum gagal jadi menantu, ya.), dan lain-lain. Kita mulai bisa berkumpul bersama tanpa rasa khawatir berlebihan seperti di tahun-tahun sebelumnya.

Di samping berkurangnya rasa takut  berkumpul secara fisik untuk berbuka bersama orang banyak, timbul fenomena klasik, yang entah kenapa muncul kembali bersamaan dengan mulai diperbolehkannya buka bersama. Fenomena tersebut, yakni ikut bukber tapi absen salat Magrib. Fenomena ini terakhir penulis temui ketika masih kecil, seusia bocah sekolah dasar–mungkin. Banyak teman-teman penulis yang hanya ikut bukber, namun absen ketika salat magrib.

Kemudian ketika memasuki tingkat menengah pertama hingga menengah atas, penulis tidak menemukan fenomena ini lagi. Hal ini mungkin disebabkan karena penulis memang sedang nyantri di salah satu pondok pesantren di kota Jombang. Fenomena yang sering dinamakan “bukber ikut, salat cabut” ini, baru penulis temui kembali ketika sudah lulus dari pesantren dan meneruskan studi di salah satu perguruan tinggi di Surabaya.

Fenomena ini memang lucu. Orang ikut bukber, yang mana merupakan sesuatu yang baik, tetapi malah meninggalkan salat lima waktu–yang kita semua ketahui adalah suatu ibadah wajib bagi seorang muslim secara individu. Ada salah satu kaidah fikih yang berbunyi:

الْوَاجِبُ لَا يُتْرَكُ اِلَّا لِوَاجِبٍ

“Perkara yang berhukum wajib itu tidak boleh ditinggalkan kecuali karena perkara wajib lainnya.”

Salat magrib yang jelas-jelas merupakan perkara wajib, kok malah ditinggalkan demi acara bukber–yang tidak wajib? Hal ini tentu saja keliru dari perspektif syariat. Toh, kalau hanya membatalkan puasa dengan makan bersama-sama, paling juga hanya butuh waktu sekitar 10--15 menit. Lalu apa, sih, yang menyebabkan perkara wajib seperti salat magrib itu ditinggalkan? Apakah ada perkara yang lebih wajib, yang harus didahulukan sehingga menyita waktu untuk salat magrib?

Jawabannya, tentu ada. Perkara yang lebih wajib dari salat magrib, sehingga harus didahulukan (setidaknya menurut mereka) adalah sesi dokumentasi dan bergunjing bersama. Dua hal ini adalah hal yang "wajib" dilakukan saat agenda bukber. Sesi dokumentasi biasanya masih terbagi lagi menjadi tiga sesi. Sebelum makan, saat makan, dan sesudah makan. Kelihatannya memang sedikit, tapi sebenarnya tiap sesi dokumentasi sudah setara dengan foto album tiga angkatan.

Belum lagi jika ada pembuatan video atau boomerang. Byuh, bisa dipastikan heboh sekali sampai lupa waktu, dan tiba-tiba saja, waktu sudah menunjukkan Indonesia bagian bubar tarawih.

Tak berhenti sampai di situ. Sesi selanjutnya adalah sesi bergunjing. Sesi ini kurang lebih juga sama seperti sesi dokumentasi—terbagi menjadi tiga sesi lagi. Saat sebelum makan, biasanya topik bergunjing tak jauh-jauh dari kejadian di hari itu: tentang guru atau dosen, tentang teman yang tidak ikut bukber, dan banyak hal lain seputar peristiwa di hari itu.

Sesi bergunjing yang berlangsung saat sedang makan, biasanya terjadi pengurangan intensitas, karena memang sesi ini terjadi saat acara inti bukber, yakni makan. Hal yang dibahas di sesi ini adalah tentang makanan atau minuman yang sedang dimakan, serta toko atau gerai tempat membeli makanan dan minuman tersebut. Kemudian sesi terakhir, sesi setelah makan, biasanya membahas tentang hal-hal apa saja yang terlintas di kepala. Bahan bergunjing di sesi terakhir ini cenderung spontan dan penuh improvisasi. Dua hal tersebut di atas, mungkin jadi penyebab di balik acara bukber yang molor dan akhirnya baru selesai ketika jamaah salat tarawih pulang dari masjid.

Tunggu. Anda kira hanya itu saja serba-serbi Ramadan di kalangan Generasi Z? Tidak semudah itu, Marimar. Hal berikutnya ini lebih parah dan sebenarnya juga merupakan rahasia umum di kalangan kawula muslim muda. Hal tersebut yakni, para anak muda yang awam soal agama (tidak pernah mengenyam pendidikan di madrasah atau pesantren), cenderung sangat gampang sekali mokel (membatalkan puasa sebelum waktunya).

Fenomena tersebut bisa terjadi disebabkan karena, menurut penulis, kurang kuatnya pondasi keimanan dan ketakwaan dalam diri seseorang. Orang yang mokel sebenarnya sudah berniat puasa di malam hari. Mereka juga makan sahur agar kuat berpuasa. Tetapi, ketika muncul godaan-godaan seperti: melihat orang makan makanan enak, aktivitas cukup padat, dan lain sebagainya—yang menurut penulis adalah hal-hal remeh yang sebenarnya tidak etis (dan tidak syar'i) untuk menjadi alasan mokel, mereka tergoda dan akhirnya membatalkan puasa sebelum waktunya. Cah pondok can’t relate, Bestie.

Terlepas dari fenomena-fenomena yang terjadi, bulan Ramadan adalah bulan suci di mana kebaikan akan dilipatgandakan pahalanya. Namun, karena Islam adalah agama yang konsekuen, maka selain adanya pelipatgandaan pahala terhadap kebaikan yang dilakukan, juga terdapat pelipatgandaan dosa sebab perbuatan buruk yang dilakukan. Jika tidak bisa menambah amalan di bulan suci ini, setidaknya jangan hilangkan amalan yang sudah dilakukan di bulan-bulan sebelumnya.

Wallahu a’lam bi as-Shawab.


Baca juga tulisan terkait Ramadan dan artikel menarik lainnya dari Muhammad La Rayba Fie