Tip-Tip agar Cerah dan Tegar ala Bu Nyai Machfudhoh

Menurut Bu Machfudhoh, jika kita berlebihan menampakkan kesedihan kepada orang lain, maka bukan tidak mungkin jika orang lain akan merasa jengah dan menjauh dari kita. Pun wajah masam tak akan menyelesaikan apa-apa.

· 2 menit untuk membaca
Tip-Tip agar Cerah dan Tegar ala Bu Nyai Machfudhoh

Hidup dan kehidupan membawa kita pada banyak persinggahan. Juga menuntun kita pada banyak perjalanan, yang tentu saja tidak selalu mulus sesuai perkiraan. Sering kali kita dihadapkan pada berbagai keterbatasan. Belum lagi ditambah persinggungan dengan berbagai macam orang. Masalah dan berbagai ujian mental yang disajikan oleh kehidupan tak pelak membuat kita sering merasa nelangsa. Ada yang mampu menyimpan kesedihan dengan rapi. Ada pula yang tak mampu menyembunyikan gurat nelangsa dari wajahnya. Lalu bagaimanakah kita harus bersikap?

Penulis buku “Perjuangan Ibu Nyai dan Politisi Perempuan” pernah mewawancarai Bu Nyai Machfudhoh Aly Ubaid pada suatu ketika. Dr. Sururin –penulis buku tersebut—menanyakan kepada beliau perihal resep agar tetap terlihat berseri, meski kesulitan sedang menghimpit. Bu Nyai Machfudhoh menuturkan bahwa beliau memiliki “jalan” agar tetap merasa bungah dan tegar dalam menjalani kehidupan dan berbagai problematikanya. Putri pertama Mbah Wahab ini memiliki motto “menangis di malam hari kepada Allah, dan menunjukkan wajah berseri di siang hari.” Menurut beliau, jika kita berlebihan menampakkan kesedihan kepada orang lain, maka bukan tidak mungkin jika orang lain akan merasa jengah dan menjauh dari kita. Pun wajah masam tak akan menyelesaikan apa-apa.

Kepada penulis buku tersebut, Bu Nyai Machfudhoh –yang juga mantan ketua umum PP Muslimat NU—ini menyampaikan beberapa preferensi sikap yang beliau ambil ketika dihadapkan dengan sebuah masalah. Pengasuh ribath Al-Lathifiyah 1 ini memberi wejangan agar setiap masalah yang datang dihadapi dengan tegar dan yakin. Dalam penuturannya, beliau juga menyarankan untuk self-talk, atau bisa diartikan sebagai upaya berbicara dan berdiskusi dengan diri sendiri. Kita bisa bertanya pada sisi lain dari diri kita, apa saja yang selama ini sudah kita upayakan, apa saja yang kesalahan yang perlu kita benahi. Self-talk menurut para psikolog bisa membantu kita agar lebih mudah berdamai dengan situasi, mengurai stres yang ada di kepala, juga memunculkan sugesti positif yang bisa menumbuhkan aura positif.

Sebagaimana status kita yang hanyalah hamba, maka sudah sepatutnya kita mengadu dan memohon pertolongan pada Yang Maha Segalanya. Upaya mendekat kepada Allah (taqarub ila Allah) ini bisa dilakukan dengan berbagai cara. Namun dalam dawuhnya, ibu nyai yang juga merupakan politisi perempuan ini memberikan contoh hal-hal yang beliau lakukan dalam rangka mendekat pada-Nya di malam hari. Biasanya beliau akan melakukan salat tahajud, tafakur, juga membaca Al-Qur’an, serta berdzikir.

Salah satu wirid yang beliau istikamahkan ketika stres dan penat melanda adalah Laa ilaaha illa anta subhanaka inni kuntu mina al-zholimiin yang dibaca dalam satu kali tarikan nafas. Pembacaan wirid ini harus dilakukan dengan penuh penghayatan, kata beliau. Di kesempatan yang sama, Bu Nyai juga menuturkan bahwa beliau membiasakan diri untuk membaca surat Al-Fatihah dalam satu kali tarikan nafas. Terasa sulit di awal, memang. Namun pesan mujiz (pemberi ijazah) yang meminta agar ummul qur’an tersebut dibaca dalam satu kali nafas, membuat Bu Nyai Machfudhoh terus berlatih dan mencoba, hingga akhirnya terbiasa. Istri dari almarhum KH. Aly Ubaid ini mengaku jika surat Fatihah tersebut dibaca dengan penghayatan penuh, maka yang timbul adalah perasaan tenang.

Upaya-upaya yang beliau lakukan di atas adalah semacam self-healing atas berbagai kejadian yang menimpa. Wirid-wirid yang dibaca dengan khusyuk adalah latihan untuk mindfulness. Tips-tips yang diberikan oleh Bu Nyai Machfudhoh ini tidak hanya mengandung nilai-nilai ibadah, melainkan juga terkandung upaya menjaga kesehatan mental di dalamnya. Yang terakhir beliau sampaikan adalah keharusan kita untuk belajar pasrah pada ketetapan Allah dan rida atas apa pun yang ditakdirkan untuk kita. Sebab tak ada yang lebih mengetahui apa yang terbaik bagi kita, selain Dia.

Tulisan ini disarikan dari buku “Perjuangan Ibu Nyai dan Politisi Perempuan” karya Dr. Sururin, MA.

Penulis: Hikmah Imroatul Afifah

Related Articles

Ulama dan Pancaragam Profesinya
· 7 menit untuk membaca
Tidak Semua Harus Jadi Gus dan Ning
· 3 menit untuk membaca
Normal Saja Jika Hasil Mengkhianati Usaha
· 2 menit untuk membaca
Era Medsos: Membunuh Kepakaran, Merayakan Keawaman
· 5 menit untuk membaca