Menziarahi Sri Devi: English Vinglish dan Problematika yang Sering Terjadi dalam Rumah Tangga

Bollywood tidak selamanya tentang 3U, udan-uler-udel, Bhayya.

· 7 menit untuk membaca
Sumber gambar: google

Film berdurasi 2 jam 13 menit besutan sutradara Gauri Shinde ini dibintangi oleh mega aktris Bollywood, Sri Devi, berperan sebagai Shashi Godbole, ibu dua anak yang kesehariannya melakukan kegiatan domestik rumah tangga. Nuansa yang tercipta pada film ini di menit-menit awal pemutarannya tidak beda jauh seperti narasi dalam buku-buku klasik zaman kita belajar baca dulu.

“Ayah pergi ke kantor.”

“Ibu pergi ke pasar.”

“Ayah bekerja.”

“Ibu memasak.”

Terbiasa ditertawakan oleh suami dan anaknya lantaran tidak mahir berbahasa Inggris, membuat Shashi bertekad mengikuti kursus bahasa Inggris di New York secara diam-diam, tanpa sepengetahuan keluarganya dengan bantuan keponakannya, Radha. Aji mumpung dalam rangkaian mengurus persiapan pernikahan Mera (kakak Radha) di New York selama satu bulan, Shashi ingin belajar bahasa Inggris dengan serius.

Ngomong-ngomong, ada Amitabh Bachchan sebagai kameo di film ini. Nostalgia para suhu!

Bahasa Inggris sebagai Gaya Hidup

India masih menggunakan bahasa Hindi dan Inggris sebagai bahasa nasional. Namun jika melihat film tersebut, tampaknya bahasa Hindi mengalami konstruksi lebih rendah dibanding bahasa Inggris. Dari beberapa film India yang saya tonton, cukup bisa diyakini bahwa berbahasa Inggris di negara bekas jajahan Inggris selama 200 tahun ini menjadi bagian dari gaya hidup. Orang yang masih menggunakan bahasa Hindi di India tampak “iyuh” alias gak banget.

Sebutlah Kabhi Khushi Kabhi Ghum, Pooja kecil dirundung di sekolah oleh Rohan dan gengnya karena dia berbicara dengan bahasa Hindi dan tinggal di Chandni Chowk (perkampungan di New Delhi). O, ya, karena saya bukan suhu soal referensi film India, saya menemukan di laman latestly.com bahwa sebenarnya sudah banyak film yang mengangkat tema tentang konstruksi bahasa lokal dan bahasa asing di negara India, di antaranya adalah Chupke Chupke (1975), Golmaal (1979), Namaste America (2005), dan Hindi Medium, “English isn’t just a language in this country, it’s a class” (2017, Alfatihah Kak Irrfan Khan). Tak jauh berbeda dengan di Indonesia, orang-orang yang berbahasa Inggris dengan lancar memiliki nilai lebih di mata sosial even di timeline twitter dengan a thread-a thread-nya. Bahasa Inggris which is menjadi bahasa dunia, kini juga menjadi bahasa kaum elit di negara-negara jajahan Inggris sendiri.

Please, kita butuh banyak Ivan Lanin di setiap negara, agar bisa berbangga dengan bahasa nasional.

Pesona Orang Ketiga

Di dalam kelas bahasa Inggris, Shashi menemukan kehidupan baru dan semangat baru. Dipandu oleh gurunya, Mr. David, ia berlatih untuk berbicara dengan bahasa Inggris bersama teman-temannya dari beberapa negara dan profesi yang mengalami pengalaman sama dengan Shashi.

Namun, bukan film India jika tidak ada drama percintaannya. Laurent (diperankan oleh Mehdi Nebbou), juru masak di restoran New York asal Perancis, teman sekelas Shashi, menyukai dan mengagumi kecantikannya. “Shashi begitu cantik, matanya seperti dua tetes kopi di atas awan susu,” begitu pujian Laurent kepada Shashi.

Tidak dihargai di keluarga sendiri, dan di luar malah disukai terang-terangan oleh chef  lajang dari Perancis membuat Shashi merasa kebingungan dengan perasaannya. Dari pendekatan dan perhatian-perhatian kecil Laurent, Shashi merasakan bagaimana arti dihargai dan dicintai.

Di satu sisi, Sathi—suami Shashi—kerap melontarkan kalimat di depan banyak orang yang membuat Shashi merasa tidak nyaman, seperti, “Istriku diciptakan hanya untuk membuat Ladu." Bahkan ketika Shashi bercerita dengan penuh semangat dan bahagia kepada suaminya melalui telepon bahwa di New York ini, teman-temannya menyebutnya sebagai entrepreneur karena membuat Ladu sekaligus menjalankan marketing-nya sendiri dengan cara delivery order, Sathi menganggap telepon dari istrinya hanyalah ocehan yang tidak penting serta menyita waktu kerjanya.

Sebenarnya kejadian-kejadian semacam ini mudah ditebak dan dialami banyak pasangan. Hati yang terasa sepi sebab lama tidak disinggahi pujian atau perhatian dari pasangan, akan rawan dihampiri gerai mixue orang asing yang bertamu sebentar di hati. Maka, belajar untuk mengapresiasi kerja-kerja kecil pasangan adalah hal yang bisa merekatkan relasi pasangan dalam rumah tangga.

Beban Ganda Perempuan

Tiga minggu berlalu, Sathi dan kedua anaknya menyusul Shashi ke New York. Sangat di luar prediksi, antara bahagia dan sedih dirasakan Shashi, sebab ia harus berusaha lebih keras lagi untuk kucing-kucingan mengikuti les bahasa Inggris.

Sebenarnya heran juga, mengapa Shashi menyembunyikan aktivitas mengikuti les bahasa Inggris kepada suami dan anaknya. Apakah karena telanjur malu atau ingin memberi kejutan kelak tiba-tiba bisa bicara bahasa Inggris di hadapan keluarganya? Yang pasti, ketika Shashi berusaha kabur dari acara jalan-jalan bersama keluarga, Radha menjadi otak utama untuk mengalihkan rencana agar bibinya tetap bisa mengikuti pelajaran. Namun, ada kejadian tidak terduga. Anak Shashi, Sagar, terjatuh ketika Shashi tidak ada di sampingnya. Shashi menjadi orang yang paling disalahkan dan dicerca oleh suaminya. Padahal pada saat Sagar terjatuh, ada ayah, kakak, dan bibinya di sampingnya.

Relate juga, kan, dengan cara pandang masyarakat kita terhadap sosok ibu? Ibu yang merawat anak selama 24 jam, ketika anak sakit tetap saja ibu yang paling disalahkan, ibu yang paling dianggap tidak becus mengurus anak jika suatu hal buruk menimpa anak.

Menurut Laurent yang seorang chef, memasak adalah seni, tetapi, tidak bagi Shashi yang kegiatan memasak merupakan aktivitasnya setiap hari.

“Memasak bagi laki-laki adalah seni, tetapi, bagi perempuan, itu adalah kewajiban”. (Shashi Godbole)

Nilai Edukasi, Budaya, dan Sosial

Menamatkan dua kali film ini di awal peluncurannya tahun 2012 dan mengulangnya kembali di tahun 2023, memberikan perspektif baru bagi saya. Banyak sekali pelajaran yang bisa diambil dari film ini. Bollywood tidak selamanya tentang 3U, udan-uler-udel, Bhayya.

Ketika Shashi menghadiri PTA (Parent Teacher Association)—semacam konferensi wali murid—di sekolah bertaraf internasional karena Sathi berhalangan hadir, yang ditanyakan oleh Shashi kepada wali kelas anaknya adalah “Apakah anakku, Sapna, memiliki sopan santun? Apakah dia disukai banyak orang?” meskipun setelah menanyakan hal tersebut, Sapna merasa ibunya membicarakan hal-hal yang tidak berguna, apalagi ibunya tidak bisa merespons obrolan sesama wali murid dengan bahasa Inggris. Sapna marah dan menganggap ibunya adalah orang yang memalukan.

“Semua remaja merasa ayah dan ibu mereka adalah hal yang memalukan.” (Nenek Sapna)

Kisah ini relevan dengan kehidupan kita sekarang. Banyak anak yang cemerlang dalam hal akademis, tetapi, sedikit yang setidaknya berbicara sopan kepada kedua orang tuanya.

Sosok yang tidak kalah kukagumi dalam film ini adalah Radha, keponakan Shashi yang tinggal lama di New York, tapi, dia tidak melupakan bahasa Hindi sebagai bahasa tanah airnya. Ia santun kepada yang lebih dewasa, juga dengan lemah lembut ia memperlakukan dan menghormati bibinya. Radha adalah orang yang menunjukkan mimik tidak suka ketika pamannya melontarkan ucapan “Istriku tercipta hanya untuk membuat ladu” kepada bibinya. Radha juga orang yang mengetahui bahwa Laurent benar-benar menyukai bibinya. “Tidak apa-apa jika Bibi juga mencintainya (Laurent).” Shashi menanggapi Radha dengan kalimat “Aku tidak butuh cinta, yang aku perlukan adalah sedikit rasa hormat”.

Shashi mengikuti kelas belajar bahasa Inggris dengan sangat antusias. Apa yang ia tidak tahu ditanyakan kepada keponakannya, Radha. Ia membaca koran Amerika, menghafalkan banyak kosakata dan menonton film-film serta berita dalam bahasa Inggris.

Suatu saat kelas sangat heboh. Santer berita jika Mr. David putus dengan pacar lelakinya. Salman, teman Shashi yang berasal dari Pakistan mengatakan bahwa gay tidak perlu dikasihani, jika putus dengan satu laki-laki, cari laki-laki lainnya.

“Salman, jangan berkata seperti itu, jangan mengolok-olok, kita semua berbeda satu sama lain. Bagimu, Mr. David tidak normal, untuk Mr. David, mungkin kamu yang tidak normal. Namun semua perasaan itu sama, dan rasa sakit tetaplah rasa sakit.” (Shashi Godbole)

Mr. David yang mendengar pergibahan kelas internasional di balik pintu merasa begitu tersanjung terhadap Shashi. Shashi, si perempuan baik hati dan pembelajar hebat, ia begitu dicintai teman-temannya.

Peran Ayah dalam Kepengurusan Anak

Film ini dikemas secara apik dengan tidak mem-branding pemeran utama sebagai malaikat tanpa dosa. Ada kala ditunjukkan sesi kecerobohan yang lumrah dilakukan oleh Shashi. Begitu juga dengan suaminya, Sathi, tidak selamanya dipertontonkan dengan buruk sepanjang film.

Sathi adalah orang pertama yang tegas mengatakan pada Shashi bahwa saudaranya membutuhkan bantuannya di New York. Shashi boleh pergi lebih dulu ke New York, sementara Sathi yang akan mengurus anak-anaknya selama tiga pekan adalah solusi terbaik menurut Sathi. Tidak hanya hal itu, pada adegan lain, Sathi mempercayakan acara PTA di sekolah dihadiri oleh Shashi, meskipun Shashi menolak untuk hadir karena dia tidak mahir bahasa Inggris. Namun, Sathi mengatakan “Bukankah kau juga orang tuanya?”

Ini menggambarkan peran seorang ayah sebagai “rijal” dalam keluarga. Pendidikan anak tidak hanya dibebankan kepada ibu, melainkan keduanya. Namun, realitas sosial seringnya terasa sangat menyedihkan. Terkadang perempuan "dibebaskan" untuk mengambil keputusan dengan syarat, misalnya, “Kamu boleh pergi asalkan anak-anak kamu bawa,” sedangkan jika laki-laki pergi tidak ada syarat yang diikatkan kepada mereka.

Belajar Tidak Mengenal Usia

Persoalan tidak bisa bahasa Inggris di lingkup keluarga yang terbiasa berkomunikasi dengan bahasa Inggris adalah penggambaran salah satu problematika dalam keluarga. Tidak hanya soal bahasa Inggris, orang tua sebaiknya harus memperbarui pengetahuan mereka sesuai dengan perkembangan zaman. Saat ini kita dihadapkan pada perkembangan pesat internet dan teknologi, jika kita tidak belajar sedikit demi sedikit, bagaimana cara kontrol kita terhadap budaya baru yang masuk? Tidak hanya mampu mengontrol, kita juga akan tertinggal oleh zaman jika tidak mau meningkatkan keterampilan. Dan anak-anak, akan semakin jauh pemikirannya meninggalkan kita, orang tuanya.

Akhir kisah English Vinglish sebenarnya mudah ditebak, tetapi, masih berada pada jalur normal, bukan sulapan. Perjuangan Shashi belajar bahasa Inggris selama satu bulan dengan gigih dan melewati beberapa drama main hati serta kucing-kucingan berbuah manis. Shashi mampu menciptakan jarak dan tetap menutup pintu hatinya untuk Laurent, sehingga Laurent bukan hanya menyukai Shashi, tetapi, sekaligus mengagumi serta menghormati Shashi sebagai seorang istri dan ibu yang menjaga kehormatannya dengan baik.

Saat sesi nasihat pernikahan diucapkan secara bergiliran, Radha dengan berbangga hati mempersilakan bibinya untuk memberikan nasihat kepada kakaknya saat resepsi pernikahan berlangsung. “Bibi Shashi, sekarang giliranmu!” Hal itu membuat Sapna berdebar-debar dan membayangkan betapa memalukan ibunya ketika berbicara dengan bahasa Hindi di depan tamu orang Amerika. Sempat disela oleh suaminya dengan mengatakan “Istriku bahasa Inggrisnya lemah….,” tetapi Shashi berdiri dengan gagah serta mempersilakan suaminya untuk duduk kembali. Shashi memberikan nasihat pernikahan dalam bahasa Inggris, meskipun dengan terbata-bata.

“Family can never be judgemental, family will never put you down, family will never make you feel small, family is only one who will never laugh at your weakness, family is only place where you always get love and respect.” (Shashi Godbole)

Apa yang disampaikan Shashi adalah ungkapan hati seorang istri dan ibu yang selalu menjadi obyek amarah dan bahan tertawaan keluarganya.

Seluruh tamu undangan memberikan tepuk tangan kepada Shashi sambil menitikkan air mata. Tiba-tiba Mr. David berteriak “Shashi, kamu lulus!” Teman-teman kelas Shashi yang diundang Radha ke acara resepsi pun memberikan standing applause kepada Shashi.


Baca tulisan menarik lainnya dari Uswah Syauqie

Related Articles

Media dan Rivalitas Antarperempuan
· 2 menit untuk membaca
Sekotak Susu “Punya Mama”
· 3 menit untuk membaca
#Womansupportwoman yang Disalahpahami
· 4 menit untuk membaca
Kartini (Harusnya) Tidak Sebatas Simbol
· 4 menit untuk membaca