#Womansupportwoman yang Disalahpahami

Woman support woman bisa dimaknai sebagai sebuah keyakinan bahwa perempuan adalah bagian dari kelompok rentan yang, dengan seluruh pengalaman biologis maupun sosialnya, diharapkan bisa saling mendukung.

· 4 menit untuk membaca
#Womansupportwoman yang Disalahpahami
Sumber gambar: https://www.progressiveplus.com

Zawaya.id–Circa pertengahan 2020 lalu, media sosial—khususnya Instagram—dipenuhi dengan tagar #womansupportingwoman. Beberapa selebritas nasional, juga internasional, ramai-ramai mengunggah swafoto milik mereka dengan tagar tersebut dan satu tagar lagi, yakni: #challengeaccepted. Tidak diketahui persis siapa yang pertama kali menggagas tagar tersebut, tetapi, beberapa sumber menduga bahwa tagar tersebut muncul sebagai aksi solidaritas perempuan di Turki atas pembunuhan Pinar Gultekin yang dilakukan oleh mantan kekasihnya.

Woman support woman bisa dimaknai sebagai sebuah keyakinan bahwa perempuan adalah bagian dari kelompok rentan yang, dengan seluruh pengalaman biologis maupun sosialnya, diharapkan bisa saling mendukung. Tepat di kata “mendukung” inilah, beberapa miskonsepsi bermunculan. Khalayak—khususnya perempuan—sebagian memaknai “woman support woman” sebagai aksi mendukung perempuan secara penuh dan menganggap apa pun tindakan yang dilakukan oleh perempuan adalah suatu kebenaran mutlak. Konsep seperti itulah yang membuat budaya kritik antarperempuan dianggap sebagai bentuk kejahatan dan tidak mendukung sesama perempuan.

Lalu, benarkah mendukung perempuan sama halnya dengan tidak perlu memberi kritik sama sekali?

Blind Spot dan Kritik

Perempuan—begitu pun dengan lelaki—adalah manusia yang terlahir dengan banyak bias kognitif. Semua manusia, tanpa peduli strata pendidikannya, pasti pernah mengalami bias kognitif, dalam berbagai bentuk. Selain Dunning-Krugger Effect, salah satu jenis bias kognitif yang paling akrab dengan telinga dan perilaku sehari-hari adalah bias konfirmasi. Bias tersebut membuat manusia cenderung hanya mencari data-data pendukung argumentasinya, dan mengabaikan data atau fakta yang berlawanan dengan keyakinannya.

Nyai Zainab Jogjawi dan Nyai Mas Wardliyah: Potret Kartini dalam Dunia Pesantren
Nyai Zainab al-Jogjawi dan Mbah Nyai Mas Wardliyah adalah perempuan hebat yang peninggalan berharganya masih bisa kita rasakan hingga hari ini.

Melalui bias konfirmasi itulah, setiap manusia selalu memiliki blind spot dalam dirinya. Ada bagian-bagian dalam diri yang tidak bisa dilihat oleh kacamata sendiri; butuh meminjam kacamata orang lain untuk melihat bagian tersebut. Di sinilah letak pentingnya kritik bagi orang lain—termasuk kritik dari satu perempuan yang dialamatkan kepada perempuan lain, atas produk pemikiran atau tindakan yang dilakukan. Kritik yang konstruktif membantu perempuan untuk menelaah ulang setiap keputusan yang sudah diambil, atau tindakan yang telah dilakukan.

Kritik: Wujud Internalisasi Pengetahuan pada Perempuan

Teori perkembangan perempuan, khususnya soal proses perkembangan kognitif perempuan, mengacu kepada hasil penelitian Mary Field Belenky, Blythe McVicker Clinchy, Nancy Rule Goldberger, dan Jill Mattuck Tarule. Pada tahun 1986, mereka merilis hasil penelitian yang dilakukan pada 135 perempuan—dengan sampel acak dan representatif terhadap keragaman latar belakang—dengan judul: "Women's Ways of Knowing: The Development of Self, Voice, and Mind". Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa terdapat lima tahapan perempuan dalam memeroleh pengetahuan. Kelima tahapan tersebut yakni: silence (diam), received knowledge (pengetahuan terterima), subjective knowledge (pengetahuan subjektif), procedural knowledge (pengetahuan prosedural), dan constructed knowledge (pengetahuan terkonstruk).

Tahapan diam digambarkan dengan kondisi perempuan yang menganggap kata-kata sebagai senjata; penuh ketakutan kalau-kalau akan dihukum jika salah ucap. Pada fase ini, pengetahuan perempuan terbatas hanya pada beberapa hal. Berbagai kekhawatiran akan hukuman membuat perempuan tidak memiliki banyak kesempatan untuk berbicara, bahkan tentang dirinya sendiri sekalipun. Cengkeraman rasa takut itu pula, yang membuat perempuan memilih untuk taat buta kepada siapa pun dan apa pun yang berkuasa. Tidak lain dan tidak bukan, tujuannya semata untuk menghindari masalah.

Selanjutnya pada fase received knowledge, pengetahuan yang diperoleh perempuan lebih banyak didapatkan dari aktivitas mendengarkan. Pada tahapan ini, perempuan tidak lagi diam, tetapi masih diliputi rasa tidak percaya diri terhadap kemampuan yang dimiliki. Akibatnya, perempuan cenderung lebih terfokus pada perkembangan orang lain dan tidak bisa melihat diri mereka sebagai individu yang sedang berproses. Informasi apa pun  yang masuk, masih dianggap sebagai kebenaran mutlak dan ditelan mentah-mentah.

Kondisi tersebut berbeda dengan perempuan yang berada pada fase subjective knowledge dan procedural knowledge. Pada fase subjective knowledge, perempuan mulai mengaitkan dan membandingkan pengetahuan yang diterima dengan pengalaman personal yang dialami. Perempuan juga mulai mempertanyakan dan mengkritisi hal-hal yang dianggap tidak logis, tetapi, pertanyaan itu disimpan dalam benaknya sendiri. Setingkat lebih tinggi, tahap procedural knowledge membuat perempuan berani melawan bias konfirmasi; mencari-cari data-data yang berlawanan dengan argumentasinya dan lebih objektif dalam memandang sesuatu. Di tahap procedural knowledge inilah perempuan mulai berani mengomunikasikan pengetahuan cum ketidaksepakatannya atas sesuatu. Dengan kata lain, perempuan sudah berani mengkritisi sesuatu.

Tip-Tip agar Cerah dan Tegar ala Bu Nyai Machfudhoh
Menurut Bu Machfudhoh, jika kita berlebihan menampakkan kesedihan kepada orang lain, maka bukan tidak mungkin jika orang lain akan merasa jengah dan menjauh dari kita. Pun wajah masam tak akan menyelesaikan apa-apa.

Tahap terakhir, constructed knowledge, menjadi puncak perkembangan kognitif bagi perempuan. Di tahap terakhir inilah perempuan benar-benar memiliki pengetahuan yang kokoh. Semua pengetahuan baru yang masuk diproses melalui tahap verifikasi yang objektif; menerima pengetahuan secara kontekstual; dan menjunjung tinggi aspek objektifitas dalam melihat si pemberi pengetahuan.

Kritik Adalah Dukungan

Kritik atas apa pun dan siapa pun, termasuk kepada produk pemikiran perempuan lain adalah sesuatu yang sah-sah saja. Dinamika perkembangan kognitif perempuan justru makin terbantu lewat aktivitas mengkritisi dan diskusi. Potensi munculnya pengetahuan baru juga semakin terbuka lebar. Kritik-kritik konstruktif yang diterima justru akan melatih para perempuan untuk melihat celah yang selama ini tak kasat mata dalam dirinya; mengasah kemampuan para perempuan untuk terbuka terhadap perspektif baru yang muncul.

Jadi, ketika melihat kezaliman atau keburukan yang disebabkan oleh satu atau sekelompok perempuan, mengkritisinya justru merupakan bentuk dukungan; mendukung mereka untuk berbenah, menyelamatkan mereka dari lingkaran bias yang menjebak. Lagi pula, sejak kapan kritik diasosiasikan dengan kebencian dan perlawanan? Jika mengkritisi satu produk pemikiran perempuan dianggap sebagai sebuah perlawanan, yang menjadi pertanyaan adalah: kita sedang menjalankan laku woman support woman, atau malah sebaliknya—melanggengkan rivalitas perempuan dengan dalih kritik adalah suatu perlawanan?

Sepertinya, benar apa kata Sigmund Freud bahwa, manusia sering kali tidak mengetahui motif sejati dari apa yang dilakukan, dan acap kali mengambil keputusan secara tidak sadar—meski secara lahir tampak sadar.


Baca tulisan lainnya tentang perempuan atau artikel menarik dari Hikmah Imroatul Afifah

Related Articles

Barokah dan Dilema Santri yang Takut Kualat
· 2 menit untuk membaca
Ilmu yang Bermanfaat, Rida Guru, dan Husnuzan Murid
· 2 menit untuk membaca
Tidak Semua Harus Jadi Gus dan Ning
· 3 menit untuk membaca
Ulama Oposan atau Oplosan?
· 4 menit untuk membaca
Normal Saja Jika Hasil Mengkhianati Usaha
· 2 menit untuk membaca