Tahun Baru (2023): Harapan VS. Dosa-Dosa Masa Lalu

Tidak mudah, memang. Namun saya tak bosan-bosan mengingatkan jika menjadi bijaksana memang butuh waktu.

· 2 menit untuk membaca
Tahun Baru: Harapan VS. Dosa-Dosa Masa Lalu
Sumber gambar: Pixabay.com

Sepanjang tahun 2022 kemarin, begitu banyak perdebatan sengit yang terjadi di media sosial. Perselisihan yang terjadi di dunia nyata pun tak kalah peliknya. Ada saja yang membuat kita geleng-geleng kepala. Mulai dari cerita-cerita perselingkuhan, perdebatan soal cara mengasuh anak, blunder yang dilakukan beberapa tokoh, eyel-eyelan soal calon presiden, dan masih banyak topik rasan-rasan yang tak akan cukup waktu jika diingat dan diurai satu-satu. Respons dan interaksi tiap individulah yang menurut saya menarik untuk diamati dan dikomentari—untuk tidak menyebut sebagai bergunjing.

Seperti bukan rahasia umum lagi jika setiap perdebatan yang seolah tak ada habisnya itu, masing-masing dari kita pasti pernah tergoda atau bahkan tergelincir dalam lubang ad hominem. Alih-alih menyanggah suatu pemikiran dengan argumen lain yang lebih konstruktif, sepertinya kita justru lebih mudah menyerang kepribadiannya. Mengorek masa lalu orang yang tak sependapat dengan kita, memang jauh lebih enteng daripada menuliskan sanggahan atas argumennya dengan referensi yang valid.

Seolah belum cukup dengan itu semua, kita masih saja gemar menciptakan dosa berupa sikap reaktif ketika berinteraksi atau menanggapi sesuatu. Betapa kita sulit sekali menahan diri untuk tidak cepat-cepat berkomentar. Padahal jika mau berjeda sejenak, mungkin kita akan jauh lebih jernih dalam memandang suatu permasalahan. Kalau saja jemari dan mulut kita lebih sabar, otak akan pelan-pelan menuntun kita agar tidak terjebak dalam pola pikir biner.

Jika boleh menambahkan satu lagi, perasaan paling berintegritas adalah dosa kita yang lain. Kekeliruan yang tampak di depan mata kita harusnya melahirkan dua hal: pemikiran kritis dan sikap mawas diri. Namun sayangnya, kita lebih sering berhenti pada poin pertama saja. Kritik-kritik kita lancarkan—kadang malah keliru sasaran, kesalahannya kita kuliti satu persatu, dan jauh di sudut kecil hati kita, muncul perasaan syukur bahwa kita jauh lebih berintegritas daripada dia.

Kalau kita ingat-ingat lagi konsep integritas yang dipaparkan Maxwell, harusnya kita tidak mudah menuduh orang lain sebagai pribadi yang tak memiliki integritas hanya karena satu-dua keburukan yang tampak. Bagi saya, justru integritas kita-lah yang seketika runtuh saat kita mulai berpikir biner dan kemudian hati kita merasa jemawa. Di hadapan banyak orang kita berbicara muluk-muluk soal adil sejak dalam pikiran, tapi dalam ruang-ruang sunyi yang hanya diketahui Tuhan, kita justru jauh dari kata adil dalam penilaian. Ada baiknya jika kita mengecek secara berkala pemikiran dan hati kita. Jangan-jangan, kita sama sekali tak berintegritas jika dibanding dengan orang yang kekeliruannya kita kritik habis-habisan dan ceritanya kita bagi ke banyak orang.

Ketergesaan kita dalam menilai sesuatu dan diiringi dengan penarikan kesimpulan yang amat sederhana harusnya tak boleh dibiarkan berlarut-larut. Hal-hal tersebut adalah dosa-dosa yang harusnya tak kita ulangi. Sembari melatih sikap mawas diri, kita juga seyogianya belajar perihal bagaimana kognisi satu individu dalam pengambilan keputusan. Sebab manusia adalah makhluk yang kompleks, maka rasanya tak pantas jika buah pikir dan perilakunya kita simpulkan secepat kilat. Satu keputusan yang diambil oleh seseorang terdiri dari banyak faktor yang memengaruhi. Bagaimana lingkungannya menilai dirinya, apa saja trauma lintas generasi yang diwariskan, dan bagaimana dia memandang dirinya sendiri adalah sedikitnya hal yang juga berpengaruh dalam penentuan keputusan satu individu.

Apabila hal-hal tersebut bisa kita cerna dengan baik, maka kita akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih empatik dan tidak reaktif dalam melakukan penilaian. Bagaimanapun, nilai benar dan salah adalah suatu keniscayaan. Kesadaran atas kompleksitas manusia juga tak boleh mengaburkan prinsip-prinsip kebajikan. Tetapi, dengan berusaha memahami latar belakang individu, kita telah menciptakan satu kebaikan: suasana damai tanpa penghakiman secara brutal. Tidak mudah, memang. Namun saya tak bosan-bosan mengingatkan jika menjadi bijaksana memang butuh waktu.


Baca juga tulisan dari Hikmah Imroatul Afifah yang lain.

Related Articles

Menolak Taklid Buta kepada Influencer
· 3 menit untuk membaca
#Womansupportwoman yang Disalahpahami
· 4 menit untuk membaca
Barokah dan Dilema Santri yang Takut Kualat
· 2 menit untuk membaca
Ilmu yang Bermanfaat, Rida Guru, dan Husnuzan Murid
· 2 menit untuk membaca