Hari Santri: Pelanggaran, Perundungan, dan Martabat Kemanusiaan

Relasi kuasa antara pengurus dan santri atau ustaz-ustazah dan santri sangat memungkinkan untuk terjadi tindak perundungan.

· 5 menit untuk membaca
Hari Santri: Pelanggaran, Perundungan, dan Martabat Kemanusiaan
Santri-santri sedang melaksanakan rotiban di Pondok Pesanten Roudlotun Nasyiin
Stop bullying! No one deserve to feel worthless

Zawaya.id–Kalimat tersebut sering kali berseliweran di media sosial saat pembahasan kasus perundungan. Jika didalami maknanya, rasa-rasanya semua orang akan bersepakat dengan pernyataan—yang mirip-mirip dengan ajakan. Perundungan memang sekejam itu. Meski kadang-kadang imbasnya tidak tampak secara fisik, tapi, satu yang pasti: perundungan akan membuat korbannya merasa tidak berharga, dan itu jelas melukai martabat kemanusiaannya.

Bicara tentang martabat kemanusiaan, saya lalu teringat soal tema Hari Santri Nasional tahun ini. Disarikan dari keterangan yang dirilis oleh Kemenag, tema “Berdaya Menjaga Martabat Kemanusiaan” bermakna bahwa santri harus mampu memberi kemanfaatan di berbagai aspek; dengan tanpa meninggalkan rasa empati, kasih sayang terhadap sesama, dan menjunjung tinggi nilai-nilai luhur kemanusiaan yang lainnya.

Ajaran-ajaran Islam yang diajarkan oleh ustaz dan ustazah di pesantren pastilah bersumber dari kitab-kitab yang dianggit oleh para ulama terdahulu yang, saya yakin, semua ajarannya berlandaskan rasa welas asih terhadap sesama. Namun, sebagaimana yang kita tahu, ada banyak sekali anomali di dunia pendidikan kita—tidak terkecuali di pesantren.

Pesan-pesan untuk bersikap baik dan penuh kasih yang kerap kali disampaikan dalam majelis-majelis ilmu itu, kadang-kadang, tanpa sadar, juga dinodai oleh sang pemberi pesan. Wejangan untuk tidak merundung yang disampaikan oleh para narasumber dalam sosialisasi pencegahan perundungan di pesantren pun, selama ini banyak dimaknai sebatas tindakan perundungan antarsantri. Padahal siapa pun bisa merundung dan menjadi korban perundungan, termasuk pengurus dan ustaz-ustazah yang merundung para santri.

Tidak Semua Harus Jadi Gus dan Ning
Di balik potret jalan-jalan, makan-makan, dan bertemu lingkar pertemanan yang baik, ada hal-hal yang sekuat hati untuk tidak mereka bagikan ke publik. Yang barangkali terhalang oleh penglihatan kita adalah: bagaimana Gus dan Ning menjalani laku tirakat.

Terdengar seperti tidak mungkin, tapi, kejadian seperti itu memang ada. Apalagi relasi kuasa antara pengurus dan santri atau ustaz-ustazah dan santri, sangat memungkinkan untuk terjadi tindak perundungan. Ketimpangan relasi kuasa adalah hal yang disebut-disebut dalam penelitian Verlove-Vanhorick sebagai penyebab tindak perundungan.

Kasus perundungan yang dilakukan oleh ustaz-ustazah dan atau pengurus terhadap santri, biasanya paling sering ditemui jika santri kedapatan melakukan pelanggaran. Kita tentu sepakat bahwa pelanggaran harus ditindak sesuai dengan peraturan tertulis yang disepakati. Namun, soal merundung pelaku pelanggaran, hal itu jelas tidak bisa dibenarkan. Bagaimanapun bentuknya, perundungan selalu meninggalkan bekas mendalam kepada para korbannya. Puluhan tahun yang lalu, Williams sudah merilis hasil penelitian yang menyatakan bahwa korban perundungan sangat rentan mengalami gangguan kesehatan fisik dan mental. Bahkan dalam penelitian Kaltiala Heino, dijelaskan bahwa korban perundungan berpotensi untuk terjangkiti suicidal thoughts (pikiran menyakiti diri sendiri) dengan intensitas cukup sering.

Tindakan perundungan tidak selalu berbentuk melukai fisik dan secara verbal. Perilaku lain seperti memarjinalkan seseorang secara sosial, juga termasuk dalam kategori perundungan. Saya pernah menjumpai seorang ustazah yang dengan terang-terangan merundung pelaku pelanggaran di sebuah pembelajaran madrasah diniyah. Contoh wujud perundungan yang dilakukan yakni, mengolok pelaku pelanggaran sebagai bocah ndableg yang tidak punya otak, dan itu dilakukan di hadapan santri-santri lain. Setelah bertanya kepada beberapa orang dengan latar belakang pesantren yang berbeda; soal apakah pernah menjumpai kejadian serupa atau tidak, ternyata jawabannya bukan lagi pernah, melainkan cukup sering. Beberapa kawan yang pernah menjadi pengurus bagian keamanan pun mengaku jika, tidak sedikit pengurus yang merundung pelaku pelanggaran dengan dalih: dia kan memang bersalah. Saya jadi ingat satu cerita di sebuah pesantren. Salah seorang pengurus keamanan pesantren tersebut pernah melabeli pelaku pelanggaran sebagai santri yang tidak bisa apa-apa, dan kelak ilmunya tidak akan manfaat, lagi berkah. Wah, enteng sekali mulutnya berucap!

Peraturan di pesantren memang harus ditegakkan setegak-tegaknya. Tetapi, para pengurus dan ustaz serta ustazah juga harus membuka diri terhadap segala pengetahuan baru ihwal perkembangan remaja. Niat hati ingin menggembleng mental seseorang, jangan-jangan yang terjadi justru fase krusialnya yang dilukai. Saya termasuk salah satu orang yang mengimani bahwa pesantren adalah salah satu tempat untuk melatih kita menjadi pribadi yang resilien. Namun, yang perlu diingat, pribadi yang resilien juga terbentuk atas sistem sosial yang mendukung: menerima kesalahan dan tidak membuat pelaku merasa menjadi seseorang yang kehilangan harga dirinya.

Sistem sosial di pesantren yang terdiri atas banyak komponen itu, mulai hari ini, pelan-pelan sebaiknya belajar soal tahapan masa remaja yang pasti dilalui oleh semua orang. Masa remaja adalah fase penting dalam pengembangan fungsi sosial seseorang. Pada masa ini, remaja menjadi sangat sensitif dengan cara pandang orang lain terhadap dirinya.

Menyigi Makna “Santri Saleh” dalam Cita-Cita Kiai Sahal Mahfudh
Saya tidak pernah menginginkan santri yang pandai. Buat apa pandai kalau tidak saleh? Sebaliknya, lebih baik bodoh tapi saleh,” jawab Kiai Sahal

Jika dikaitkan dengan konteks permasalahan tadi, apabila pelaku pelanggaran—yang selanjutnya menjadi korban perundungan—adalah seorang remaja (notabene santri-santri adalah anak-anak pada usia remaja), maka bukan tidak mungkin dia akan merasa dikucilkan. Jika dalam kenyataannya dia benar-benar dimarjinalkan oleh lingkungannya, maka putuslah keterhubungan dia dengan orang lain. Padahal, keterhubungan dengan orang lain adalah salah satu hal penting dalam proses perkembangan remaja.

Setelah menjadi korban dan merasa cemas atau bahkan depresi, menurut Schwartz, dia akan lebih rentan untuk menjadi korban perundungan susulan yang, bisa jadi dilakukan oleh teman-teman sebayanya. Rantai perundungan ini tidak akan pernah menemui ujungnya sebab remaja memang cenderung tidak bisa menampung terlalu banyak stressor seorang diri. Selain berdampak pada korban, perundungan yang luput kali disadari itu juga berimbas kepada santri-santri lain yang bukan korban.

Kita semua, termasuk para santri di pesantren, tumbuh seperti apa-apa yang kita lihat. Jika tindak perundungan yang dicontohkan oleh ustaz-ustazah atau pengurus tersebut, terjadi secara berulang, maka para santri akan menangkap dan memersepsikan itu sebagai sesuatu yang wajar. Repetisi kejadian bisa membuat hal-hal itu terinternalisasi di alam bawah sadar mereka. Akibatnya, tanpa menunggu lama, mereka akan mengadopsi tindakan tersebut sebagai satu-satunya cara dalam menyikapi pelaku pelanggaran.

Kalau kultur sosial yang terbentuk sudah seperti itu, masihkah kita berharap bahwa santri-santri bisa tumbuh menjadi pribadi yang resilien sekaligus welas terhadap orang lain? Menjaga martabat kemanusiaan itu kedengarannya mudah, karena kita mengira bahwa selama ini semuanya sudah cukup baik. Padahal, mewujudkan santri yang berdaya menjaga martabat kemanusiaan itu harus dimulai dengan kemauan untuk mengevaluasi sistem dan memperbaikinya, serta mengembangkan keilmuan seluruh komponen pesantren—termasuk keilmuan mendidik dan membina dengan empatik.


Baca tulisan lainnya tentang pesantren atau artikel menarik dari Hikmah Imroatul Afifah