Hadiah Allah untuk Jiwa-Jiwa Pemaaf*

Dua orang saling beperkara di akhirat di hadapan Allah swt. Keduanya sama-sama menang berkat kemuliaan maaf dan rahmat Allah swt.

· 1 menit untuk membaca
Hadiah Allah untuk Jiwa-Jiwa Pemaaf
Sumber: instagram @zawayadotid

Zawaya.id–Suatu ketika kami (Sahabat) sedang duduk bersama dengan Rasulullah saw. Tiba-tiba beliau tertawa hingga terlihat gigi seri beliau. Maka bertanyalah Sayyidina Umar bin Khattab ra, “Demi ayah dan ibuku, wahai Rasulullah, apa yang membuat engkau tertawa?”

Rasulullah saw. menjawab, “Ada dua orang dari umatku yang sedang berlutut di hadapan Allah swt. Maka berkatalah salah satunya: ‘Wahai Tuhanku, ambilkan hakku dari saudaraku yang berbuat zalim kepadaku!’ Allah swt. pun bersabda kepada orang yang zalim tersebut, ‘Berikanlah hak saudaramu yang kau zalimi!’

‘Bagaimana aku melakukannya wahai Tuhanku, sedangkan kebaikanku sudah tidak tersisa lagi?’ protes si zalim.

Kemudian Allah swt. bersabda kepada orang yang menuntut haknya tersebut, ‘Bagaimana bisa kau menuntutnya, sedangkan kebaikannya sudah tidak tersisa lagi?’

‘Orang itu bisa mengambil [dosa] keburukanku,’ jawab orang yang dizalimi.

Tetiba mengalirlah air mata Rasulullah saw. Beliau bersabda, “Sungguh hari itu adalah hari yang sangat berat; setiap manusia akan memikul dan dimintai pertanggungjawaban atas dosa-dosanya.”

Rasulullah kemudian melanjutkan ceritanya, “Allah swt. bersabda kepada orang yang menuntut haknya, ‘Angkatlah kepalamu dan lihatlah!’

Orang itu pun mengangkat kepalanya dan berkata: ‘Wahai Tuhanku, aku melihat kota yang terbuat dari perak dan istana yang terbuat dari emas. Untuk nabi siapakah ini? Untuk orang jujur mana ini? Untuk orang syahid siapa ini?’

‘Semua ini Aku berikan kepada orang yang mampu membayarnya,’ jawab Allah swt.

'Siapa yang mampu, wahai Tuhanku?' tanya si penuntut keheranan

'Engkau mampu melakukannya,' kata Allah.

Penuntut itu pun bertanya lagi, 'Bagaimana caraku melakukannya?'

'Dengan cara memaafkan orang yang telah berbuat zalim kepadamu,' jawab Allah swt.

Akhirnya orang tersebut memaafkan saudaranya yang telah berbuat zalim kepadanya.”

Rasulullah saw. memungkasi ceritanya, “Wahai manusia, bertakwalah [kepada Allah] dan perbaikilah hubunganmu dengan sesama. Sesungguhnya Allah swt. memperbaiki hubungan antarorang-orang yang beriman.”

Ramadan sebentar lagi datang. Tak ada yang lebih nikmat dari memasuki bulan suci dengan keadaan yang suci pula dari segala kebencian dan dendam. Oleh sebab itu, mari saling memaafkan. Semoga rahmat dan kasih-sayang Allah selalu meliputi kita.

Rujukan:

  1. Qabasaat min Hayaah al-Rasuul, karya Syekh Ahmad Muhammad Assaaf

*artikel hasil kerja bakti Pondok Pesantren Bahrul Ulum Putra (Induk) dan Zawaya.id

Baca tulisan menarik lainnya dari Muhammad Rofiqul Amin