Menyigi Makna "Santri Saleh" dalam Cita-Cita Kiai Sahal Mahfudh

"Saya tidak pernah menginginkan santri yang pandai. Buat apa pandai kalau tidak saleh? Sebaliknya, lebih baik bodoh tapi saleh,” jawab Kiai Sahal

· 3 menit untuk membaca
Menyigi Makna "Santri Saleh" dalam Cita-Cita Kiai Sahal
Sumber gambar: instagram @zawayadotid

Zawaya.id–Pesantren di dalamnya mengandung beberapa komponen yaitu asrama, kiai, dan santri. Ketiganya merupakan hal unik dari bagian miniatur masyarakat–yang mulanya hanyalah kelompok kecil dan termarginalkan–kemudian sekarang menjadi kelompok yang semakin membesar berikut eksistensinya yang telah diakui dalam UU Pesantren.

Santri, menurut Kiai Sahal, adalah sebutan yang disematkan kepada seseorang yang meleburkan dirinya dalam pesantren secara total; baik dalam kegiatan belajar-mengajar, bahkan dalam keseluruhan hidupnya. Oleh karenanya, ia harus “keluar” dari rumah, keluarga, serta masyarakat lalu masuk dalam lingkungan baru yang relatif berbeda dari lingkungan sebelumnya.

Selayang Pandang tentang Kiai Sahal Mahfudh

Kiai Sahal bernama lengkap Muhammad Ahmad Sahal Mahfudh. Ia lahir pada 17 Desember 1937 dari ayah KH. Mahfudh Salam dan ibu Nyai Hj. Badiah. Kiai Sahal mempersunting Nyai Hj. Nafisah sebagai istri sekaligus inisiator berdirinya Pesantren Putri Al-Badi’iyah (Pesilba). Sedangkan putranya, KH. Abdul Ghofarrozin kini sebagai pengasuh Pesantren Maslakul Huda Kajen Pati. Pada 24 Januari 2014, Kiai Sahal menghembuskan nafas terakhirnya dan dikebumikan bersama leluhurnya Mbah Mutamakkin di komplek pesarean Kajen.

Santri Saleh menurut Kiai Sahal

Pada sebuah wawancara dengan Tempo.co, Kiai Sahal ditanya, “Sebagai pengasuh pesantren, Anda menginginkan santri seperti apa?”

“Cita-cita saya hanya satu, mempunyai santri yang saleh. Saya tidak pernah menginginkan santri yang pandai. Buat apa pandai kalau tidak saleh? Sebaliknya, lebih baik bodoh tapi saleh,”  jawab Kiai Sahal

Menjadi santri yang saleh berarti, secara potensial, harus bisa berperan aktif, terampil, dan bermanfaat dalam kehidupan, baik kepada sesama manusia, maupun kepada hewan dan alam. Itulah kenapa Kiai Sahal lebih menyukai santri yang saleh, karena yang pandai secara keilmuan belum tentu saleh. Oleh sebab itu, santri yang bodoh jika ia peka dan bermanfaat bagi orang lain, ia lebih disukai ketimbang santri pandai yang tidak memiliki kepedulian komunal.

Pesan Kiai Sahal ini berkelindan dengan semboyan Perguruan Islam Mathaliul Falah (biasa disingkat PIM), madrasah semasa muda beliau, yaitu: “Tafaqquh fiddin, Menuju Insan Sholih Akrom”. Semboyan tersebut, kurang-lebih artinya 'semangat belajar agama agar menjadi manusia yang berguna dan mulia'.

Ragam makna Kesalehan

Arti saleh dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yaitu: (1) taat dan sungguh-sungguh menjalankan ibadah; (2) suci dan beriman. Sedangkan menurut Kiai Sahal, saleh berarti seseorang mampu menata, memajukan, dan memelihara alam ini. Maksud beliau, seorang yang berkarakter saleh berarti berkompeten dalam menghidupkan bumi sekaligus menjaganya untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat (sa’adatuddarain). (Pesantren Mencari Makna, Pustaka Ciganjur, 1999, hal. 158)

Kata “saleh” dalam Al-Qur’an ada banyak sekali, salah satunya dalam surat An-Nisa ayat 69 yang berbunyi,

وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَالرَّسُوْلَ فَاُولٰۤىِٕكَ مَعَ الَّذِيْنَ اَنْعَمَ اللّٰهُ عَلَيْهِمْ مِّنَ النَّبِيّٖنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَاۤءِ وَالصّٰلِحِيْنَ ۚ وَحَسُنَ اُولٰۤىِٕكَ رَفِيْقًا

"Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul (Muhammad), maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang diberikan nikmat oleh Allah, (yaitu) para nabi, para pencinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya" (QS. An-Nisa’ [4]: 69).

Dalam perspektif tafsir, menurut Abu Ja’far Ath-Thabari, kata “ash-shalihin” yang merupakan jamak dari “ash-shalih” berarti 'orang yang baik lahir dan batin' (Jami’ Al-Bayan fi Ta’wil Al-Qur’an/8/534). Hal senada juga diungkapkan Izzuddin bin Abdissalam dalam tafsirnya.

Abu Al-Hasan ‘Ali Al-Mawardi dalam tafsirnya mengatakan ada dua makna “ash-shalihin”; pertama, 'semua orang yang berbuat baik'; kedua, 'semua orang yang baik lahir dan batin' (An-Nukat wa Al-‘Uyun/1/505). Abu Al-Hasan ‘Ali Al-Wahidi menyebutkan bahwa kata “ash-shalihin” berarti 'orang-orang ahli surga dari kalangan muslim' (Al-Wajiz fi Tafsir Al-Kitab Al-‘Aziz/1/273).

Abu Al-Qasim Al-Husain Ar-Raghib Al-Asfihani berpendapat bahwa saleh bermakna 'orang-orang yang mengetahui sesuatu dengan yakin dan bersandar kepada orang-orang yang berilmu'. Mereka diumpamakan bagai orang yang melihat sesuatu yang jauh melalui cermin (Tafsir Ar-Raghib Al-Asfihani/3/1312-1313).

Fakhruddin Ar-Razi mengatakan dalam tafsirnya, saleh adalah 'orang yang baik dalam keyakinan dan perbuatannya'. Orang bodoh itu rusak keyakinannya, sedangkan orang maksiat itu rusak dalam perbuatannya. Jadi orang yang keyakinannya benar dan perbuatannya selalu taat serta tidak maksiat maka ia adalah orang yang saleh (Mafatih Al-Gaib /10/135)

Dalam pandangan Nashiruddin Al-Baidlawi, kata “ash-shalihin” berarti 'orang-orang yang seluruh pengabdian hidup dan hartanya hanya untuk menggapai rida Allah swt.' (Anwaruttanzil wa Asrorutta’wil/2/83).

Dikemukakan oleh Muhammad Sayyid Ath-Thanthawi bahwa “ash-shalihin” adalah 'orang-orang yang berkepribadian baik, hatinya konsisten, dan senantiasa melaksanakan kewajiban'. Baik kewajibannya kepada Allah, dirinya sendiri, dan orang lain (Tafsir Al-Wasith lil Qur’an Al-Karim/3/209) .

Dari ragam definisi menurut beberapa ulama di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa saleh adalah orang-orang yang menjadikan dirinya bermanfaat, selalu berbuat baik dengan ikhtiar lahir dan batin dan beruntung menjadi hamba yang bermutu dan berkualitas.


Baca juga tulisan tentang tokoh-tokoh yang lain, serta artikel menarik lainnya dari Muhammad Ilham Fikron