Pokok-Pokok Akidah Aswaja: Allah Maha Pencipta Segala Sesuatu

Segala sesuatu, selain Allah, adalah makhluk, yang berarti: ciptaan Allah swt.

· 5 menit untuk membaca
Pokok-Pokok Akidah Aswaja: Allah Pencipta Segala Sesuatu
Kitab al-Aqiidah al-Thohaawiyah, salah satu kitab penting yang memuat pokok-pokok akidah ahlusunah waljmaah.

Zawaya.id–Prinsip kedua yang juga terkait dengan prinsip ketuhanan adalah bahwa Allah pencipta segala sesuatu. Imam aswaja, al-Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari, menegaskan bahwa makna syahadat pertama laa ilaaha illaa Allah adalah: tidak ada pencipta kecuali Allah. Prinsip akidah ahlusunah ini berdasarkan ayat-ayat Al-Qur’an yang sangat lugas, di antaranya adalah firman Allah ta’ala,

وخلق كل الشيء

“'Dan Allah menciptakan segala sesuatu.'” (Q.S al Furqan:2)

هل من خالق غير الله

“'Tidak ada pencipta selain Allah'” (Q.S Fathir:3)

قل الله خالق كل الشيء

“'Katakanlah: Allah adalah pencipta segala sesuatu'”

Allah Pencipta Perbuatan Manusia

Ketiga ayat di atas, dengan sangat gamblang, menjelaskan bahwa segala sesuatu, selain Allah, baik berupa benda maupun perbuatan adalah makhluk ciptaan Allah (makhluk). Seluruhnya, Allahlah yang menciptakannya; mengadakannya dari tidak ada menjadi ada. Perbuatan manusia, Allah juga yang menciptakannya. Secara lebih jelas, disebutkan dalam ayat lain, Allah ta’ala berfirman,

والله خلقكم وما تعملون

“'Dan Allah yang menciptakan diri kalian dan perbuatan yang kalian lakukan'” (Q.S as Shafat : 96)

Dalam sebuah hadis, Rasulullah saw. bersabda,

ان الله صانع كل صانع وصنعته

“'Sesungguhnya Allah adalah pencipta setiap orang yang melakukan perbuatan dan juga perbuatannya'” (HR. al-Hakim, al-Baihaqi dan Ibnu Hibban).

Serial Aswaja (1): Kesahihan Akidah Asyariyah dan Maturidiyah
Sejarah telah membuktikan bahwa mayoritas umat Muhammad pada setiap generasi, dari dahulu hingga sekarang, adalah Asy’ariyah dan Maturidiyah

Macam-Macam Perbuatan Manusia

Perbuatan yang dilakukan oleh manusia terbagi menjadi dua bagian, yaitu:

1) perbuatan ikhtiyariyah yaitu perbuatan yang terjadi atas kehendak manusia seperti salat, makan, minum, menulis, dan seterusnya;
2) perbuatan idhthirariyyah, yaitu perbuatan yang terjadi dengan tanpa kehendak manusia, seperti detak jantung, bibir bergetar ketika dingin dan seterusnya.

Dua jenis perbuatan manusia di atas adalah ciptaan Allah ta’ala. Allah ta’ala berfirman,

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ

“Katakanlah (wahai Muhammad) sesungguhnya salatku, nusukku (sembelihan yang dilakukan untuk mendekatkan diri kepada Allah, seperti al-Hadyu dan kurban Iduladha), hidupku, dan matiku adalah milik Tuhan semesta alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya”. (Q.S. al An’am: 162-163)

Pada ayat ini, jelas dinyatakan bahwa salat dan nusuk (menyembelih binatang kurban) yang merupakan perbuatan ikhtiyari, kemudian hidup dan mati yang merupakan perbuatan idhthirari, kesemuanya adalah ciptaan Allah. Tidak ada yang menyekutui-Nya dalam hal ini. Hanya Allah yang menciptakannya; yang mengadakannya dari tidak ada menjadi ada.

Di antara ayat-ayat al-Qur’an yang menunjukkan bahwa manusia bukan pencipta perbuatannya, baik perbuatan yang bersifat ikhtiyari maupun idlthirari adalah firman Allah,

فَلَمْ تَقْتُلُوهُمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ قَتَلَهُمْ

“'Kalian tidaklah membunuh mereka, tapi Allah yang membunuh mereka'”. (Q.S. al Anfal : 17)

Sekalipun orang-orang muslim yang berperang dan membunuh orang-orang kafir, tetapi, seperti yang dijelaskan ayat di atas, Allah menafikan bahwa merekalah yang membunuh secara hakiki; dalam pengertian menciptakan pembunuhan. Sebab, para sahabat nabi yang menjadi khithab ayat tersebut, meskipun mereka melakukan pembunuhan, tetapi bukanlah mereka pencipta perbuatan membunuh tersebut.

Yang mereka lakukan tidak lain hanyalah kasab (perbuatan secara lahir saja) Kasab adalah apabila seorang hamba mengarahkan niat dan kehendaknya untuk melakukan suatu perbuatan dan pada saat itulah Allah menciptakan perbuatan tersebut. Pada hakikatnya, Allah yang menciptakan perbuatan mereka, dari tidak ada menjadi ada. Lanjutan firman Allah dari surat al-Anfal tersebut,

وَمَا رَمَيْتَ إِذْ رَمَيْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ رَمَى

“'Dan tidaklah engkau melempar–secara hakiki–saat engkau melempar, tetapi Allah yang menciptakan perbuatan melempar yang engkau lakukan.” (Q.S. al Anfal: 17)

Pada ayat ini Allah menafikan perbuatan melempar dari Rasulullah saw. dalam pengertian hakikat dan penciptaannya. Menafikan pengertian mengadakan dari tidak ada menjadi ada. Jadi, maksud ayat tersebut adalah: “Engkau-Wahai Muhammad-tidaklah menciptakan perbuatan melempar yang terjadi dari dirimu, akan tetapi itu adalah ciptaan Allah. Dialah yang mengadakannya dari tidak ada menjadi ada”.

Pada ayat ini, Allah, pada satu sisi, menafikan perbuatan melempar dari Rasulullah saw., yaitu dari segi penciptaan; mengadakan dari tidak ada menjadi ada dan menetapkan adanya perbuatan melempar dari Rasulullah saw. dari sisi lain, yaitu dari segi kasab, yakni Rasulullah saw. melakukan perbuatan melempar, tetapi tidak menciptakannya.

Imam Abu Hanifah–semoga Allah meridainya-berkata,

اعمال العباد فعل منهم وخلق لله

“'Perbuatan-perbuatan hamba adalah perbuatan dari mereka dan ciptaan Allah'”.

Inilah yang diyakini mayoritas umat Islam, baik mereka, para ulama salaf (mereka yang hidup pada 300 tahun pertama hijriah, yaitu periode sahabat Nabi, tabi’in dan tabi’ut tabi’in), maupun ulama kkhalaf (pasca periode salaf hingga kini).

Pendapat yang menyalahi akidah ini berarti telah menyalahi al-Qur’an dan hadis Nabi. Dalam sebuah hadis, riwayat al-Bukhari, diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. apabila kembali dari haji atau umrah atau dari berperang, beliau berkata,

لا إله إلا الله وحده لاشريك له، نصر عبده، وأعزَّ جنده، وهزم الأحزاب وحده

“'Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya, Dialah yang menolong hamba-Nya, memenangkan tentara-Nya dan mengalahkan semua kelompok (musuh) dengan sendirian”'.

Dalam hadis di atas, Rasulullah saw. menjadikan kekalahan semua kelompok musuh sebagai sesuatu yang murni ciptaan Allah, tanpa ada andil dari siapa pun. Padahal secara lahir, pasukan Rasulullah saw. (kaum muslimin) telah mengalahkan musuh. Hadis ini cukup memberikan pemahaman yang sangat jelas. Namun, begitu masih banyak ayat lainnya yang memberikan pemahaman yang sama; bahwa manusia sama sekali tidak menciptakan perbuatannya.

Pokok-Pokok Akidah Aswaja (1): At-Tanzih
Apapun yang terlintas dalam benak kamu (tentang Allah), maka Allah tidak seperti itu.′

Allah Pencipta Kebaikan Dan Keburukan

Ahlusunah Waljamaah meyakini bahwa Allah pencipta kebaikan dan juga pencipta keburukan, pencipta keimanan dan kekufuran, dan pencipta ketaatan dan kemaksiatan. Allah ta’ala yang menciptakan sayyidina Muhammad, makhluk yang paling agung dan paling mulia. Allah pulalah yang menciptakan Iblis sebagai makhluk Allah yang paling buruk, penghuni neraka. Dalam Al-Qur’an dijelaskan:

ومن شرما خلق

“Dan aku berlindung dari keburukan yang telah engkau ciptakan”  (Q.S al Falaq:2)

Di antara redaksi doa qunut yang, diajarkan oleh Nabi dan biasa kita baca pada waktu salat subuh, ada yang berbunyi:

وقني شرما قضيت

“'Dan jagalah aku dari keburukan sesuatu yang engkau ciptakan'”

Dengan demikian, kebaikan dan keburukan sama-sama terjadi dengan ciptaan, kehendak, dan takdir Allah ta’ala. Yang berbeda di antara keduanya: bahwa kebaikan terjadi dengan perintah, cinta, dan rida Allah ta’ala, sedangkan keburukan terjadi tidak dengan dengan rida Allah, namun dibenci oleh Allah ta’ala. Allah ta’ala berfirman:

مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ

Maksudnya: bahwa sesuatu yang menimpa manusia, yang berupa nikmat, adalah karunia dari Allah ta’ala, sedangkan sesuatu yang menimpa manusia berupa musibah, itu adalah balasan dari perbuatan yang kita lakukan.


Baca tulisan lainnya terkait Aswaja atau artikel menarik lain dari Zaada

Related Articles

Firkah Non-Aswaja: Hizb al-Tahrir
· 3 menit untuk membaca
Firkah Non-Aswaja: Hizb al-Ikhwan
· 5 menit untuk membaca
Firkah Non-Aswaja: Wahhabiyyah
· 6 menit untuk membaca
Pokok-Pokok Akidah Aswaja (1): At-Tanzih
· 5 menit untuk membaca
Serial Aswaja (2): Mazhab-Mazhab Ahusunnah Waljamaah
· 6 menit untuk membaca