Mengimani Sifat Rahman-Rahim Allah yang Melampaui Batas dan Identias Manusia: Mari Menjadi Hamba yang Ramah, bukan Pemarah

Kalau Allah, Tuhan seru seluruh alam raya ini saja Pengasih lagi Penyayang, mengapa kita, yang mengaku hambanya, suka marah-marah. Hamba siapa kita ini sebenarnya?

· 3 menit untuk membaca
Mengimani Sifat Rahman-Rahim Allah yang Melampaui Batas dan Identias Manusia: Mari Menjadi Hamba yang Ramah, bukan Pemarah
Sumber gambar: https://www.mosoah.com 

Zawaya.id–Bagi mereka yang alumni pesantren atau minimal pernah mondok di pesantren, sudah sangat pasti memahami makna bacaan basmalah, bacaan basmalah ini memuat 2 (dua) sifat Allah swt., yakni “Ar-Rahman dan Ar-Rahim” yang menjelaskan bahwa Allah swt. adalah Tuhan Yang Maha Pengasih, lagi Maha Penyayang dengan dua asma dan/atau sifat Rahman (Maha Pengasih) dan Rahim-Nya (Maha Penyayang).

Kasih-sayang Allah ini dibuktikan dengan diletakkannya kedua sifat itu dalam bacaan basmalah yang tentu kita rapalkan setiap hari, minimal sebelum membaca surat-surat Al-Qur’an sewaktu melaksanakan salat 5 (lima) waktu. Tidak sampai di situ, bahkan pembuktian ini ditegaskan kemudian lewat diletakkannya kedua sifat itu di permulaan Asmaul Husna. Hal ini mempertegas bahwa Allah Swt. mengenalkan diri-Nya kepada hamba-Nya pertama kali dengan sifat Kasih-Sayang-Nya, bukan dengan sifat Pengazab, Penguhukum, Penyiksa, dsb.

Seyogiyanya, hal ini menjadi sebuah pembelajaran penting bagi kita hamba-Nya, bahwa Allah swt. lebih mendahulukan welas-asihNya kepada seluruh makhlukNya ketimbang murka-Nya. Tentu sekarang kita pahami, betapa Allah swt. cenderung menghamparkan ampunan-Nya daripada azab-Nya.

Dijelaskan dalam sebuah riwayat hadis, dari Anas bin Malik: “saya mendengar Rasulullah Saw. bersabda: Allah berfirman, ‘wahai anak Adam, sesungguhnya selama kamu masih berdoa dan berharap kepada-Ku, pastilah Aku mengampuni kamu semua atas dosa apa saja yang ada pada dirimu dan Aku tidak memedulikan berapa banyaknya. Hai anak Adam, apabila dosa-dosamu mencapai mega di langit, kemudian kamu beristigfar kepada-Ku, niscaya Aku mengampunimu dan Aku tidak peduli seberapa banyak itu, hai anak Adam, sesungguhnya apabila kamu mendatangiku dengan membawa berbagai kesalahan hampir sepenuh isi bumi, kemudian kamu menemui-Ku, asalkan kamu tidak menyekutukan-Ku dengan suatu apa pun, niscaya Aku akan datang padamu dengan pengampunan sebanyak dosamu itu.” (HR. Tirmidzi)[1].

Coba baca dan renungkan, jelas sudah kemahaan Allah diproklamasikan dalam hadis tersebut sebagai Sang Maha Welas-Asih, Sang Maha Pengampun yang ampunannya melampaui batas dan identitas manusia sebagai makhukNya, sebesar dan seluas apa pun dosa-dosa yang pernah kita lakukan, maka sebesar dan seluas itu pula ampunan-Nya.

Dari hadis di atas kita tahu, dalam penerimaan taubat seorang hamba, Allah mensyaratkan tiga hal, yakni: Pertama, berdoa disertai dengan harapan, bukan saja sebagai sarana kita untuk memohon dan meminta kepada Allah Swt., doa juga dapat kita maknakan sebagai wujud penghambaan kita kepadaNya. Kedua, senantiasa beristigfar, memohon ampunan atas apa yang telah kita lakukan dan meminta perlindungan dari segala kekhilafan di masa yang akan datang. Ketiga, ketauhidan artinya tidak menyuktukan Allah Swt. dengan apa pun.

Satu dari keluasan rahmat Islam sebagai agama yang diturunkan-Nya adalah kasih-sayang, walas-asih, dan cinta yang menyuluruh. Ia melampaui batas dan identitas manusia, menghilangkan segala sekat antarmanusia yang majemuk-beragam, tanpa pandang siapa pun, apa ras dan suku bangsanya, bagaimana warna kulitnya, seperti apa pandangan politiknya, dan seluruh hal remeh-temeh yang sering kita permasalahkan sebagai hamba-Nya.

Hari ini, sebagai refleksi atas kemahaluasan Rahman-Rahim-Nya, mengapa bisa kita yang mengaku bahkan menuliskannya di KTP. sebagai penganut agama yang diturunkanNya, justru malah kerap mempertontonkan sikap yang berseberangan dengan sifat-sifat Allah yang setiap hari kita rapalkan dalam bacaaan basmalah dan menjadi sifat pertama yang Ia kenalkan ke kita, hambanya.

Kalau Allah Tuhan seru seluruh alam raya ini saja Pengasih lagi Penyayang, lalu oleh-Nya juga diutus seorang Rasul yang juga mencontohkan keramahan serta kasih-sayang kepada sesama makhluk Allah, mengapa kita sebagai hambanya suka marah. Hamba siapa kita ini sebenarnya, adakah kita mengikuti ajaran-Nya dan menghamba pada-Nya atau kita hanya mengikuti nafsu ngamukan kita yang berjejer serasi lagi rapi dengan ketamakan yang mendukung dan menjadikan kita sebagai hamba yang sakarepe dhewe? Atau mungkin perbuatan kita ini dilatar belakangi oleh karena sempit dan awamnya kita dalam mengenal-Nya dan Rasul-Nya?

Bukankah indah semata bila kita hidup dalam keramahan-keramahan sebagaimana yang telah diajarkan oleh Allah Swt. via kanjeng Nabi Muhammad saw. dan kita pelajari dari ulama terdahulu, kyai, dan guru kita, bukan malah menjadi hamba yang marah-marah dan suka menyalah-manyalahkan orang, apalagi sampai lantang dan berani memvonis salah terhadap orang lain yang berujung pada menghukumi kafir pada selaainnya.

Sampai di sini, marilah kita tanam dan upayakankan dalam diri kita untuk menumbuhkan kelegowoanhati, menjadi hamba yang pemaaf serta ramah, menjiwai Rahman-Rahim Allah serta meneladani keistimewahan Rasul-Nya dalam lelaku sehari-hari.

Wallahu a’lam bish showab.


[1]عن أنس بن مالك رضي الله عنه، قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: قال الله تبارك وتعالى: يا ابن آدم، إنك ما دعوتني ورجوتني غفرت لك على ما كان فيك ولا أبالي، يا ابن آدم لو بلغت ذنوبك عنان السماء، ثم استغفرتني، غفرت لك ولا أبالي، يا ابن آدم إنك لو أتيتني بقراب الأرض خطيا، ثم لقيتني لا تشرك بي شيئا، لأتيتك بقرابها مغفرة

Baca juga tulisan menarik lainnya dari Fahmi Syahab

Related Articles

Ulama dan Pancaragam Profesinya
· 7 menit untuk membaca
Tidak Semua Harus Jadi Gus dan Ning
· 3 menit untuk membaca
Ulama Oposan atau Oplosan?
· 4 menit untuk membaca
Normal Saja Jika Hasil Mengkhianati Usaha
· 2 menit untuk membaca