Syair Nasihat Rumi dalam Menyongsong Ramadan

Kata Rumi, puasa adalah penutup mulut. Rumi meyebutnya demikian karena, menurutnya, puasa (seharusnya) bisa menahan mulut dari godaan makan dan minum, serta menahan mulut dari berbohong dan berkata keji.

· 3 menit untuk membaca
Syair Nasihat Rumi dalam Menyongsong Ramadan
sumber gambar: bbc.com

Zawaya.id–Ramadan telah tampak di depan mata. Persiapan demi persiapan sudah gencar dilakukan. Ada yang sibuk membuat jurnal Ramadan; ada pula yang rajin mencatat menu harian untuk sajian buka puasa dan santapan sahur;

Kemudian ada pula komunitas yang memilih untuk berziarah kubur; juga bersilaturahmi dengan para guru atau sanak famili yang telah mendahului. Beberapa kalangan juga ada yang memutuskan untuk menyusun senarai kitab kuning yang akan dikaji selama Ramadan. Semua entitas muslim berlomba-lomba untuk menyambut bulan mulia dan penuh berkah itu: Ramadan. Bulan yang disebut-sebut Maulana Rumi dalam syairnya:

"Ramadan telah tiba dan kita sambut hari Raya
Gembok itu telah hadir bersama kuncinya
Saat mulut terkunci, terbukalah penglihatan
Lalu cahaya memancar dalam diri kita
Ramadan tiba ‘tuk berkhidmat pada hati
Dan bersama kita sang penawar hati"

(Rumi, Divan-e Syams, puisi ke-370)

Diksi-diksi Rumi diatas terasa begitu indah; menggambarkan betapa Rumi amat berbahagia dengan datangnya bulan suci Ramadan. Bagi seorang sufi seperti Rumi, puasa memiliki makna tersendiri. Kebahagiaannya membuncah sebab puasa adalah sarana untuk berkhidmat pada Tuhan. Puasa tidak sekadar usaha "menahan mulut kita untuk tidak mengunyah makanan atau meneguk minuman".

Rumi memakai beberapa ungkapan untuk menggambarkan puasa. Band-e dahan adalah salah satu ungkapan yang dia pilih yang berarti 'penutup mulut'. Pemilihan tersebut bermakna bahwa puasa tidak hanya tentang bagaimana kita bisa menahan mulut dari godaan makanan dan minuman. Tetapi, tujuan yang lebih penting adalah untuk mencegah mulut kita dari kebohongan dan perkataan zalim yang dialamatkan untuk orang lain.

Istilah lain yang dipakai Rumi untuk menggambarkan puasa adalah atash, yang bermakna 'api'. Harapannya, dengan berpuasa, segala nafsu dan hasrat duniawi kita akan terbakar oleh puasa yang kita lalui.

Selain itu, Rumi juga memakai diksi kendi untuk mengibaratkan makna puasa. Kendi yang penuh dengan air jernih akan pecah saat kita berpuasa. Kemudian, jika hal itu bisa kita lakukan dengan benar, maka seakan-akan kita telah kehilangan sesuatu yang amat berharga, yaitu air jernih dalam kendi.

Beberapa metafora yang dipilih Rumi berikut pemaknaannya adalah sebagai pengingat bagi kita untuk benar-benar bisa optimal melaksanakan ibadah puasa, yakni bersungguh-sungguh mengerangkeng mulut dari segala perkataan yang berpotensi menyakiti sesama. Dengan artian, kita tidak hanya dituntut untuk melakukan kesalehan tunggal; kesalehan yang manfaatnya kembali kepada pribadi. Namun, secara bersamaan, kita juga dituntut untuk mampu melaksanakan kesalehan ritual dan sosial.

Pemaknaan puasa yang dituangkan oleh Rumi ini sejalan dengan hadis Nabi saw. yang diriwayatkan oleh Thabrani: “Betapa banyak orang yang berpuasa, tetapi dia tidak mendapatkan dari puasanya itu kecuali hanya (menahan rasa lapar dan dahaga.”

Momen Ramadan yang agung, dengan puasa sebagai “jamuan rohani”, seyogianya menjadi kesempatan berharga yang tak boleh dilewatkan begitu saja. Bulan Ramadan adalah momen yang mampu menajamkan spiritualitas kita dan melatih kita untuk senantiasa terhubung dengan Yang Mahakuasa.

Tak ada kenikmatan lain yang mampu menandingi nikmat terhubungnya hati seorang hamba dengan pencipta. Dengan wasilah Ramadan-lah, Allah akan memfasilitasi para hamba-Nya dengan perjalanan yang dapat mengantarkannya kepada Tuhan alam semesta. Hingga pada akhirnya, akan tumbuh rasa cinta dan akan ada koneksi hati yang selalu terhubung dengan Tuhan.

Cara itulah yang akan membuat kita tergerak untuk istikamah beribadah, baik secara vertikal maupun horizontal. Tidak hanya besikap baik pada-Nya, namun juga harmonis dengan hamba-hamba-Nya. Sebab, pada dasarnya, takwa terdiri dari unsur yang saling berkelindan: pemenuhan atas segala hak-Nya dan hak hamba-hamba-Nya yang lain.

Andaikan ada hal yang harus kita renungkan, hal itu tak lain dan tak bukan adalah seberapa jauh persiapan kita menyambut Ramadan. Masihkah kita berkutat pada persiapan yang bersifat simbolik; ataukah kita telah melangkah lebih maju: menyiapkan hati dan jiwa kita untuk benar-benar menahan hawa nafsu.

Sebagai penutup, saya pungkasi coretan ini dengan syair Rumi yang mampu menggugah semangat berpuasa:

"Meski ragamu 'kan memucat sebab puasa
Namun, jiwamu 'kan melembut bagai sutra
Doa-doa di bulan ini mustajab
Pintu-pintu langit kan terbuka
Yusuf menjadi pemimpin Mesir yang dicintai
Sebab ia bersabar dalam sumur gelap tak terperi"
(Rumi, Divan-e Syams, puisi ke-2344)

Referensi:
Kitab Cinta dan Ayat-Ayat Sufistik, karya Afifah Ahmad.