Adab Berdoa: Ketuklah Pintu Hati Sebelum Mengetuk Pintu Langit!

Syekh Abdullah bin Hijâzi Asy-Syarqâwi menjelaskan bahwa salah satu contoh dari kenihilan akhlak adalah ketika kita terburu-buru meminta agar doa yang kita langitkan segera diijabah.

· 2 menit untuk membaca
Adab Berdoa: Ketuklah Pintu Hati Sebelum Mengetuk Pintu Langit!
Photo: Tima Miroshnichenko

Zawaya.id–Berdoa adalah ibadah yang sangat berharga dan mulia bagi manusia. Bagaimana tidak, dengan ibadah tersebut, manusia mampu meningkatkan kualitas penghambaannya, meningkatkan kepercayaan kepada Tuhannya, dan yang terpenting adalah, dia mengakui bahwa dirinya hanyalah makhluk lemah—sebagaimana tabiatnya, lantas dia sadar bahwa, yang Mahakuat adalah Allah swt. semata.

Konsepsi di atas merupakan batu loncatan menuju problematika yang sering merundung manusia dalam realitas kehidupannya, khususnya dalam hal mencapai keinginannya. Banyak dari kita yang merasa sudah berdoa, tetapi doanya tak berbuah apa-apa; yang dia harapkan tak kunjung nyata, bahkan yang terjadi justru bertolak belakang dengan usaha dan pintanya.

Perlu diingat, ditakdir berdoa kepada Zat yang tak pernah berdusta merupakan nikmat besar yang perlu disyukuri. Tak sedikit dari kita yang memandang sebelah mata kenikmatan itu, dan banyak juga yang melupakannya. Tentu hal ini adalah penyakit yang harus segera diatasi, karena jika tidak, maka penyakit itu akan kronis, dan akan sulit dihilangkan.

Menganggap Allah keji kepada makhluk-Nya merupakan konklusi yang sangat keliru. Lantaran doa yang tidak kunjung diijabah dan karena nasibnya tetap berada di bawah (ed: begitu-gitu saja), seseorang sangat mungkin tersugesti jelek; suuzan kepada Allah swt. Saat manusia telah tersugesti seperti itu, secara tidak sadar, dia telah kehilangan akhlak dalam berdoa; yaitu, dia harus tetap husnuzan terhadap takdir yang Allah berikan, dan beriman bahwa, garis takdir yang berlaku dalam hidupnya adalah hal terbaik untuknya.

Tanpa disadari juga, sikap amoral itulah yang menyebabkan doanya terhambat dan tak segera diangkat. Sikap tersebut menjadi masalah dasar yang menjadi motif pemilihan judul tulisan kali ini. Judul itu bermaksud bahwa, dalam berdoa dan meminta, seseorang harus memperhatikan akhlak kepada Tuhannya; yakni dengan memperbaiki keyakinan bahwa, segala pintanya pasti dikabulkan Allah swt. Seperti yang diungkapkan Imam Ibnu ‘Athaillah As-Sakandari dalam salah satu aforismanya, “Jangan kau tuntut Tuhanmu karena telatnya (ijabah) doamu, tapi tuntutlah dirimu sendiri; karena nihilnya akhlakmu ketika meminta!”

Lebih Lanjut, Syekh Abdullah bin Hijâzi Asy-Syarqâwi menjelaskan bahwa, salah satu contoh pertama dari kenihilan akhlak itu adalah ketika kita terburu-buru meminta agar doa yang kita langitkan segera diijabah. Hal itu jelas mampu mereduksi kualitas penghambaan seseorang, karena yang menjadi sasaran fokusnya bukan lagi mengingat Tuhan yang menjadi tempat curahan keluh-kesahnya, melainkan yang terpatri dalam ingatan hanyalah doa dan keinginannya belaka. Kemudian contoh yang kedua dari kenihilan di atas adalah suuzan kepada Allah, karena apa yang dipinta tak segera menjadi nyata.

Memang benar, Allah memerintah kita untuk berdoa dan Allah pasti akan mengabulkannya. Seperti yang terlampir dalam Al-Qur’an:

وَقَالَ رَبَّكُمُ ادْعُوْنِيۤ أَسْتَجِبْ لَكُمْ

“Dan Tuhanmu berfirman, 'Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.' (QS: Ghâfir; 60).

Tak patut ada keraguan jika Allah pasti mengabulkan doa hamba-Nya. Akan tetapi, masalah waktu pengabulan, dan bentuknya merupakan hak prerogatif Allah swt.; karena tidak ada satupun orang yang mampu mengetahui waktu itu, dan seseorang tidak akan tahu apa yang lebih bermanfaat untuknya dan kehidupannya. Allah akan mengabulkan doa seorang hamba dengan mewujudkannya menjadi sesuatu yang sesuai kehendak-Nya, dan  Dia akan mengabulkannya pada waktu yang Dia pilih, bukan waktu yang kita pilih.

Sudah semestinya kita percaya dan husnuzan kepada Allah ketika berdoa. Perihal pengabulan, serahkan pada-Nya. Kita hanya terkena tuntutan untuk berdoa, bukan menuntut agar doa itu segera ada hasilnya. Selain itu, yang harus kita yakini adalah, Allah malu jika ada seorang hamba yang rela menengadahkan tangannya, lantas Dia tidak mengabulkan doa itu dan membiarkannya  begitu saja.

Jadi, sebelum mengetuk pintu langit (ed: berdoa), ada baiknya jika kita mengetuk pintu hati terlebih dahulu; membersihkannya dari segala keraguan dan menyucikannya dari rasa tergesa-gesa. Lantas mengganti keraguan itu dengan keyakinan, dan mengganti tergesa-gesa tadi dengan ketenangan dan kepasrahan.


Baca juga tulisan lainnya terkait nasihat dari Syafil Umam

Related Articles

Tiga Komitmen yang Harus Dijaga di Bulan Suci Ramadan
· 2 menit untuk membaca
Syair Nasihat Rumi dalam Menyongsong Ramadan
· 3 menit untuk membaca
Tata Krama Berbicara Ala Ulama Al-Azhar
· 2 menit untuk membaca
Sabar di Setiap Keadaan
· 1 menit untuk membaca