Netiket: yang Seyogianya Diperhatikan Ketika Berbelasungkawa dan Meminta Maaf di Media Sosial

Seyogianya sebagai makhluk yang (kebetulan saja) dibekali akal pikir dan akal budi oleh Tuhan, manusia seharusnya dapat berperilaku sesuai tuntutan etika dan moral.

· 5 menit untuk membaca
Netiket: yang Seyogianya Diperhatikan Ketika Berbelasungkawa dan Meminta Maaf di Media Sosial

Zawaya.id–Memasuki era digital dan perkembangan iptek yang semakin tidak keruan, penggunaan media sosial sebagai sarana untuk melakukan pelbagai hal, seperti nyampah, curhat, flexing, dan segala bentuk pengaktualisasian diri menjadi hal lumrah. Meski begitu, seharusnya juga disadari bahwa dalam bermedia sosial harus tetap berlandaskan asas etika dan kesantunan. Hal ini tentu tidak secara sorih (jelas) diatur dalam undang-undang dasar 1945 atau dalam kitab-kitab klasik karya ulama salaf terkemuka yang sering dijadikan landasan pikir oleh hampir seluruh rakyat Indonesia.

Intisari dari pelajaran mengenai etika dan kesantunan dalam berinteraksi sosial baik dalam dunia nyata atau maya dapat diresapi dan dijiwai dari kedua dasar dan/atau landasan pikir di atas. Sehingga, seyogianya, sebagai makhluk yang (kebetulan saja) dibekali akal pikir dan akal budi oleh Tuhan, manusia seharusnya dapat menuangkan pengetahuan tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam beberapa tahun terakhir, fungsi TOA (pengeras suara) masjid dan kentongan gerdu sebagai media broadcasting perlahan-lahan mulai berkurang keefektivitasannya. Bagi sebagian masyarakat kita, mendengar suara kentongan gerdu dengan pola ketukan yang unik menjadi hal yang tidak asing. Ia menjadi sebuah kode yang sudah disepakati fungsi dari pola ketukannya, misal ada kabar kebakaran maka pola ketukan yang digunakan dalam memukul kentongan berbeda dengan ketika terjadi pencurian. Hal ini juga berlaku bila terjadi bencana alam, orang meninggal, dan penujuk waktu memasuki tengah malam.

Belakangan, kalau seseorang memiliki hajat, apa pun itu, hampir pasti sistem penyebaran undangannya disampaikan melalui media daring, grup WhatsApp (WA) misalnya. Setelah berkirim pesan singkat yang berisi hajat, hampir pasti beberepa anggota group akan bereaksi, seperti dalam kasus berita orang meninggal “turut berduka cita, ya, atas meninggalnya si A” atau “Semoga amal ibadahnya diterima di sisi Allah swt. dan khilafnya diampuni. Amin!” Setelah pada tahap itu, beberapa anggota grup akan mengunggah ucapan duka melalui kolom status WA sebagai wujud berbelasungkawa. Singkatnya, kebutuhan broadcasting kita hari ini sudah disokong oleh adanya media daring.

Nah, kendati demikian, pada kenyataannya, masih banyak orang yang rasanya masih kurang dewasa dalam menggunakan media daring sebagai media pengaktualisasian diri, sedangkan penggunaan media sosial sudah sangat masif dan maklum bahkan digunakan oleh anak kecil. Utamanya bagi mereka yang sudah baligh secara fisik (maksudnya benar-benar baligh dari ciri fisik, bukan sikap) dan ingin terlihat normatif di social circles-nya. Berikut ini beberapa hal kecil yang seharusnya diperhatikan dalam bermedia sosial agar setidak-tidaknya tidak memuakkan bagi lingkungan maya-mu.

Berbelasungkawa melalui Media Sosial

Tentu saja banyak kita jumpai ucapan belasungkawa di media sosial, baik melalui status WA, respon/balasan di grup WA, status Instagram (IG), dan masih banyak lagi. Hal ini mulanya terlihat normal-normal saja, tidak ada yang salah, malah terlihat baik karena ikut berduka dan mendoakan. Sampai ketika setelah ucapan bela sungkawa itu diuanggah, kemudian si empunya akun tersebut mengunggah hal-hal yang tidak penting dan terkesan hanya bermain-main, bahkan sebelum 1x24 jam. Benar-benar sebelum ucapan belasungkawa itu hilang. Sangat tidak masuk akal dan memuakkan.

Tentu keresahan ini sangat beralasan. Bayangkan, dalam satu kasus, ada seorang teman yang berbelasungkawa atas kepergian orang terdekatnya kemudian ucapan belasungkawa tersebut diunggah di kolom status WA, tetapi belum genap 2 jam status tersebut bertengger di deretan kolom status WA, si empunya malah mengunggah meme, foto/video yang menunjukkan dirinya sedang bersenang-senang, liburan, atau keluar dengan pacar.

Sebagai penonton, bukannya sikap respek dan belasungkawa yang didapati dari status tersebut, malahan orang akan bingung mengekspresikan keadaan si empunya status, apakah dia sedang berduka atau sedang bersenang-senang. Lebih-lebih bagi mereka yang paham semiotika, hal ini akan menciderai nalar mereka. Mereka akan bertanya-tanya, apakah si empunya status ini benar-benar berduka atau hanya sekadar melempar ucapan tanpa pikir panjang. Tentu hal ini sangat perlu dihindari.

Era Sosmed: Membunuh Kepakaran, Merayakan Keawaman
Sebagai insan manusia–yang tentu bukan insane manusia–seyogianya kita lebih berhati-hati dan berpikir mendalam sebelum berkomentar

Dengan contoh kasus tersebut, harusnya disadari bersama bahwa ketika bermedia sosial juga ada etikanya. Gunakan media sosial dengan bijak, misalkan sedang berduka, minimal tunggu saja 1x24 jam untuk tidak mengunggah hal-hal konyol sebagai bentuk penghormatan dan duka citamu itu benar adanya. Lagi pula, tidak mengunggah hal yang tidak berguna di kolom status selama satu hari juga tidak akan menjadikan dijauhi teman-teman, bukan?

Etika Meminta Maaf melalui Media Sosial

Masih sangat segar di ingatan kita bersama, beberapa bulan lalu saat Syawal, kita semua melakukan tradisi riyayan (Halalbihalal) tradisi saling bermaafan dengan sesama. Tradisi unik yang menandai berakhirnya bulan Ramadan dan dimulainya bulan Syawal ini rasanya tidak akan ditemui di negara-negara Islam di Timur Tengah, kiranya tradisi riyayan ini memang hidup dan berakar di Indonesia saja sehingga menjadikannya sebagai salah satu khazanah berbudaya yang bernilai luhur dan khas.

Jika ditinjau secara ekonomi, tentu bangsa ini sangat akrab dengan tradisi mudik yang menjadi bagian tak terpisahkan dari riyayan. Hal ini tentu berpengaruh pada perkembangan ekonomi negara karena angkutan umum, jalan tol, pedagang pakaian, penjual jasa tukar uang baru, dan banyak lainnya yang kemudian menjadi ramai sebab budaya riyayan. Namun, pada kesempatan ini penulis tidak akan memfokuskan pembahasa pada hal tersebut, melainkan pada mentalitas pemuda hari ini dalam melaksanakan riyayan (bermaafan) melalui medsos.

Kita hari ini mudah sekali berkirim pesan melalui media sosial. Hal ini (mau-tidak mau) harus diterima sebagai akibat dari perkembangan teknologi dan selanjutnya juga berdampak pada transformasi budaya riyayan yang semula harus benar-benar kita lakukan secara tatap muka, baik dengan ritual sungkeman atau bersalaman, berganti dengan pesan singkat yang biasanya dibumbui dengan deretan sajak-sajak puitis berisi ucapan selamat hari raya dan permohonan maaf.

Meski begitu, dengan adanya kemudahan tersebut bukan artinya tidak menimbulkan anomali, banyak pemuda hari ini yang kemudian enggan untuk bersilaturahmi kepada yang lebih tua lantaran berpikir semuanya sudah dapat dilaksanakan secara daring. Meskipun memang benar, bahwa kemudahan itu harus disyukuri, tetapi kemudian juga perlu adanya batas-batas norma dalam pengaplikasiannya.

Ini merupakan hal kecil yang jarang diperhatikan dan tidak sepatutnya diremehkan. Kemudahan dalam riyayan seharusnya disikapi dengan bijak dengan cara (setidak-tidaknya) jangan mengirim pesan ucapan hari raya dan permohonan maaf secara broadcast dengan cara salin-tempel, paling tidak sebut nama orang yang dituju untuk diberikan ucapan, karena bagaimanapun kiriman pesan tanpa alamat yang jelas tersebut sangat tidak mencerminkan sikap respek dan rawan menciderai integritas pengirim pesan.

Hal ini bukan tanpa dasar, pesan-pesan puitis nan indah tanpa alamat (penyebutan nama) yang jelas menandakan bahwa dalam proses pengirimannya, si pengirim tidak menunjukkan usaha yang tulus dan terkesan hanya sebatas iseng atau hanya agar terlihat normatif. Alasannya? Tentu saja pesan broadcast dangan sistem salin-tempel banyak dijumpai templatnya di Google, dan sangat mungkin saja si pengirim tidak memahami arti atau maksud dari pesan tersebut. Asal terlihat puitis, indah, dan normatif, tanpa pikir panjang langsung disalin dan di-broadcast ke semua kontak yang ada di gawai.

Sependek pemahaman penulis, sebagus apa pun suatu pesan apabila maksudnya tidak tersampaikan dengan benar juga tidak akan ada artinya. Jadi, akan lebih baik jika pesan tersebut hasil ketikan sendiri dengan alamat yang jelas ditujukan kepada siapa. Namun, jika memang benar-benar ingin tampak indah, setidaknya tuliskan secara jelas siapa nama orang yang Anda kirimi ucapan hari raya dan permohonan maaf tersebut. Hal itu akan menunjukkan ketulusan pesan yang Anda sampaikan.

Inilah yang seharusnya dipahami bersama. Bahwa meskipun tidak ada tuntunan secara jelas terkait beretika dalam bermedsos, generasi hari ini sepatutnya segera bersadar diri untuk kemudian menggunakan isi kepala (anugerah dari Sang Pencipta) dengan benar agar tidak menjadi pemuda yang haus eksistensi memuakkan, setidak-tidaknya di lingkungan maya. Selanjutnya, terkait bahasa yang kasar ini, tentu penulis sangat sengaja dan ingin membuktikan bahwa diri penulis bukan merupakan golongan makhluk halus.

Wallahu a’alam bish shawab.


Baca juga tulisan terkait netiket atau artikel dari Fahmi Syahab yang lain.

Related Articles

#Womansupportwoman yang Disalahpahami
· 4 menit untuk membaca
Empati: Sebuah Upaya Menghindari Kerusuhan di Medsos
· 2 menit untuk membaca
Barokah dan Dilema Santri yang Takut Kualat
· 2 menit untuk membaca
Ilmu yang Bermanfaat, Rida Guru, dan Husnuzan Murid
· 2 menit untuk membaca
Tidak Semua Harus Jadi Gus dan Ning
· 3 menit untuk membaca
Ulama Oposan atau Oplosan?
· 4 menit untuk membaca