Syaikh Hasan Al-Idwi Al-Azhari, Santri yang Dinafkahi Sidna Husain r.a.*

"Saya beriman kepada Allah swt; demi Allah, demi Allah, demi Allah, Maulana Sidna Husain r.a. benar ada di sini (Mesir) dengan kepala mulianya, jasadnya, dan ruhnya".

· 2 menit untuk membaca
Syaikh Hasan Al-Idwi Al-Azhariy, Santri yang Dinafkahi Sidna Husain r.a.
Makam Imam Husain r.a. di Kairo, Mesir

Zawaya.id–.Syekh. Dr. Atiyah Musthofa, pada pengajian Ramadan, 3 April yang lalu, mengisahkan bahwa dulu ada santri Al-Azhar yang berjuluk "Khadim Al-A'tab Al-Husainiyyah". Santri tersebut bernama asli Hasan Al-Idwi. Santri tersebut dijuluki "Khadim Al-A'tab Al-Husainiyyah" karena, dulu ketika nyantri di Al-Azhar Al-Syarif, ia termasuk santri yang terbilang miskin. Untuk menunaikan hak tubuh, seperti makan-minum pun, ia tidak mampu. Karena keterbatasan ekonomi itulah, suatu hari, ia memutuskan berhenti nyantri untuk menjadi petani di kampung halamannya, Idwah.

Singkat cerita. Suatu hari, ada seorang lelaki mendatanginya, lalu Syaikh Hasan Al-Idwi mengutarakan keluh kesahnya: tidak memiliki bekal nyantri di Al-Azhar Al-Syarif.

"Yang mulia, saya santri yang sangat berhasrat menuntut ilmu. Namun, apa daya, saya tidak menemukan satu pun orang yang (bersedia) menafkahiku," keluh Syekh Hasan al-Idwi

"Apa yang kamu inginkan?" tanya lelaki itu.

"Ada orang yang menafkahiku," jawab Syekh Hasan Al-Idwi.

Mendengar keluh kesahnya, lelaki itu pun mengiyakan.

"Baiklah. Setiap bulan, kamu datanglah ke tempat ini. Aku akan memberimu ratib (upah karena hasil kerja atau pemberian sukarela) yang mencukupimu buat nyantri," terangnya

Mendengar jawaban simpatik dari lelaki itu, Syekh Hasan Al-Idwi begitu gembira. Setiap bulan, ia selalu rutin datang ke tempat yang dimaksudkan oleh si lelaki untuk mengambil ratib.

Namun, ada hal yang selalu membuat Syekh Hasan Al-Idwi mengernyitkan dahi setiap ia mengambil ratib. Lelaki misterius itu seketika menghilang jejaknya. Alias tiba-tiba menghilang. Kejadian semacam itu terus berlangsung hingga Syekh Hasan Al-Idwi mendapatkan ijazah dan jabatan di Al-Azhar Al-Syarif. Bahkan tidak sampai di situ, sesudah mendapat jabatan pun lelaki itu selalu datang membawakannya ratib.

Setelah kejadian itu, pada suatu hari, muncul kemuskilan di antara ulama Al-Azhar mengenai jasad mulia Maulana Sidna Husain r.a. Semua ulama yang hadir ketika itu berpendapat sesuai dengan kitab yang mereka baca. Ada yang berpendapat bahwa yang dimakamkan di Mesir adalah Kepala Mulia Sidna Husain r.a saja, bukan jasadnya. Ada pula yang berpendapat bahwa yang dimakamkan di adalah jasad utuh Sidna Husain. Syekh Hasan Al-Idwi sendiri, yang pada waktu itu turut meramaikan diskusi, lebih condong dengan pendapat yang pertama.

Mengetahui pendapat Syekh Hasan Al-Idwi itu, lelaki yang rutin memberinya ratib itu pun datang dalam mimpinya.

"Apakah yang selalu memberimu ratib itu datang dengan kepalanya saja atau kepala dan jasadnya?" sergah lelaki itu.

Mendengar pertanyaan laki tersebut, Syekh Hasan Al-Idwi sekonyong-konyong bangun. Dengan penuh keyakinan, ia bersumpah,

"Saya beriman kepada Allah swt; demi Allah, demi Allah, demi Allah, Maulana Sidna Husain r.a. benar ada di sini (Mesir) dengan kepala mulianya, jasadnya, dan ruhnya".

Syekh Hasan Al-Idwi akhirnya tahu bahwa lelaki yang selalu memberinya ratib ketika nyantri di Al-Azhar Al-Syarif itu adalah Maulana Sidna Husain r.a, cucu kinasih Baginda Al-Musthafa saw.

Semenjak kejadian itu, Syekh Hasan Al-Idwi menjuluki dirinya "Khadim Al-A'tab Al-Husainiyyah", yang berarti 'pelayan dan pengemis cinta kasih Sidna Husain r.a.'


*Disarikan dari pengajian kitab Syarah Arb'ain Syaikh Abdul Majid Al-Syarnubiy Al-Azhariy, oleh Syaikhuna. Dr. Atiyah Musthafa Al-Azhariy.

Baca juga tulisan lainnya terkait Mesir dan artikel menarik lainnya dari Maulana Ramdhan